Apakah Kita Ingin menjadi Ibu yang Tak Mudah Marah?

Isi cerita ini diambil dari buku berjudul "Seni Memahami Perasaan Anak" yang ditulis oleh Park Jae Yeon yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Putri Permatasari dari PT Grafika Mardi Yuana, Bogor. Semoga bermanfaat.

Apakah Kita Ingin Menjadi Ibu yang Tak Mudah Marah? 

Ketika hidup sebagai ibu, kadang aku bertanya-tanya apakah ada perilaku buruk di dalam diriku, apakah aku punya keberanian, atau tipe seperti apakah aku ini. Berbagai perasaan ini secara mengejutkan bisa mendekatkan atau menjauhkanku dari anak.


Amarah, perasaan yang membuat kacau

Ada beberapa perasaan yang membuat kita kacau sebagai seorang ibu, salah satunya adalah amarah. Di saat benar-benar marah, aku tak dapat mengungkapkan perasaanku dengan benar meskipun dalam hati berkata, aku harus mencoba berbicara dengannya. Namun, setelah melampiaskan amarah, aku merasa bersalah, lalu takut dan cemas, berlanjut dengan menyalahkan diri sendiri dan depresi. Rasa depresi itu kemudian akan memengaruhi hubunganku dengan anak, dan membuatku merasa malu dan rendah diri.

Mulai bicara ➡ Melampiaskan amarah ➡ Merasa bersalah ➡ Takut dan cemas hubungan akan menjauh ➡ Menyalahkan diri sendiri, depresi➡ Malu, rendah diri

Perasaan yang muncul akibat melampiaskan amarah bukanlah hal yang buruk. Semakin ingin menghilangkannya, semakin perasaan tersebut mengganggu kita. Orang-orang mencoba berbagai hal untuk menyingkirkan dan melupakan perasaan itu. Ada yang minum-minum, belanja, maraton drama, juga makan terus-menerus. Jika melakukan perilaku abnormal, kita harus memperhatikan dan memeriksa penyebabnya.

Apakah amarah bisa dikontrol? 

Biasanya orang mengekspresikan emosi dengan berlebihan saat sedang marah.

"Aku sangat marah! Ini karenamu! Karena kamu!!"

"Harusnya yang seperti ini bisa kamu urus sendiri!"

"Kalau kamu tidak bersikap aneh, aku tidak mungkin begini!"

Ingatlah hari-hari ketika kita marah kepada seseorang. Siapa yang membuat kita marah dan bagaimana situasinya? Apa hubungan kita dengan orang itu? Siapa yang lebih kuat di antara kalian? Perbedaan apa yang dirasakan ketika kita lebih kuat daripada dia, dibandingkan ketika dia lebih kuat daripada kita? Aku sering melihat para ibu yang perilakunya berbeda: Saat bersama anak-anaknya saja dan saat ada kehadiran orang lain di sekitar mereka. Para ibu yang seringkali tak bisa mengendalikan amarahnya mengakui hal ini dalam kelas komunikasi: Saat berada di keramaian, mereka dapat mengontrol amarah. Namun saat berdua saja dengan anaknya, mereka tak bisa menahannya.

Masalahnya, mereka akan lebih marah saat berpikir dirinya tak dapat mengendalikan diri sendiri. Mereka dapat bersabar dalam situasi ada banyak saksi atau ada orang yang ditakuti. Namun, bila lawannya mudah dihadapi dan tempatnya aman, mereka bahkan tak berusaha untuk menahan diri dan langsung meledak. Karena itu, mereka bisa marah kepada keluarga. Inilah yang kita pikirkan saat menghadapi amarah.

Kamu membuatku marah. Kamu mengabaikanku.

Jika perspektif di atas diubah. dan tindakan yang muncul juga bisa sangat berbeda. Misalnya sebagai berikut: 

Iya, aku marah, sangat marah. Ada amarah di hatiku sekarang.


Dua pikiran ini tampak sama saja, yaitu perasaan dalam situasi sedang marah. Namun, keduanya memiliki perbedaan besar dalam cara menghadapi amarah.

Yang pertama, kita menyadari ada amarah di dalam diri kita, namun menganggap orang lain sebagai penyebabnya. Sedangkan yang kedua, kita menyadari adanya amarah yang sumbernya dari diri kita sendiri. Artinya, kita melihat dengan tepat bahwa ada amarah di suatu tempat dalam tubuh kita. Aku pikir kisah selanjutnya dapat menjelaskan bagaimana hal ini mungkin terjadi.

Aku memarahi anakku di pintu depan. Aku selalu marah kepada anakku yang ceroboh. Lagi-lagi anakku tidak mengemas bekal yang sudah disiapkan. Kalau saja dia membawanya, aku pasti tak akan marah. Aku tak punya pilihan lain selain marah karena ini tidak terjadi satu-dua kali saja.

Aku berteriak, "Kamu tidak bisa mengemas barang-barang dengan benar, ya?" Aku membuka pintu dan menyuruh anakku pergi dengan cepat, kemudian mataku bertemu dengan mata tetangga seberang rumah. Kami saling menyapa dengan senyuman. Lalu, sontak aku mengubah nada bicaraku kepada anakku menjadi lebih lembut. Begitu aku masuk dan menutup pintu, aku menyadari pembicaraan selama latihan komunikasi.

Benar sekali. Aku memiliki kemampuan untuk mengontrol amarahku. Hanya saja, aku tidak mau mengontrolnya. Sampai akhirnya aku bertatapan mata dengan tetanggaku. Pada saat itu. aku sadar betapa pentingnya kepercayaan bahwa aku dapat mengatasi amarah dengan baik, karena amarah itu sebenarnya berasal dari diriku sendiri. Jadi saat anakku pulang dari sekolah, aku meminta maaf kepadanya. Walaupun masih belum percaya diri, aku tak mau mengulanginya lagi dan menyesalinya.


Tiga tanda dari amarah

Penting untuk menentukan bisa atau tidaknya kita mengontrol amarah. 

Bayangkanlah saat kita sedang memarahi anak. lalu tiba-tiba guru sekolahnya menelepon. Walaupun sedang marah, kita pasti akan menjawab telepon dengan mengubah suara menjadi lembut dan berkata, "Halo".

Jika sang guru menelepon untuk memuji anak. bagaimana kita memperlakukan anak setelah menutup telepon? Lalu, apakah yang kita lakukan jika sang guru khawatir atau mengeluh tentang anak? Apakah kita akan bertindak sama seperti sebelumnya atau berbeda?

Sebelum ada telepon masuk, mungkin kita masih percaya bahwa kita tak bisa mengontrol amarah. Namun, setelah menutup telepon dan mendengar pujian tentang anak, harus kita akui bahwa amarah kita mereda. Keyakinan bahwa kita tak bisa mengontrol amarah baru saja terpatahkan. Kita mengakui bahwa emosi kita telah berubah. Jadi, siapa pun bisa mengubah pikiran dan mengatasi amarah.

Kita berpikir tak bisa menahan amarah, tetapi sebenarnya kita hanya tak mau melakukannya. Yang penting bukanlah soal menahan amarah atau tidak. melainkan cara menanganinya. Amarah perlu ditangani dengan cinta. Jika tidak, amarah akan jadi penyakit. Jangan lupa bahwa amarah adalah perasaan berharga yang dapat kita tangani.

Penting untuk mengingat amarah sebagai tanda tiga hal ini:

  1. Tanda bahwa kita yakin orang lain.
  2. Tanda bahwa apa yang sangat kita inginkan tidak terwujud.
  3. Tanda bahwa kita akan mengatakan dan melakukan hal yang akan kita sesali.

Belum lama ini, aku melihat berita ada seorang ibu di Incheon yang melampiaskan amarahnya setelah bercerai. Dia menuangkan air panas kepada anak sampai menyebabkan luka bakar tingkat dua.

Semakin kita mencoba mencari penyebab amarah pada orang lain, kita akan menjadi semakin kejam dan tertekan. Inilah alasan para ibu perlu mengetahui cara menyingkirkan amarah mereka. Kita harus menjaga diri dengan baik saat marah agar dapat memikirkan kemungkinan lain untuk mengatasinya.


Sadari perasaan lain di dalam bungkusan amarah

Seperti apa cara mengatasi amarah yang baik? Salah satunya dengan membebaskan pikiran dari apa yang kita anggap benar. Kita perlu bertoleransi terhadap diri sendiri.

Ibu yang harus menyiapkan makanan.

Isi rumah harus selalu dirapikan. 

Bertengkar adalah hal yang buruk.

Semakin kita memaksakan diri, semakin tinggi juga ekspektasi kita terhadap orang lain. Bukan masalah besar jika kita sesekali membeli makan di luar. Dan tak apa-apa jika kita tidak memasak saat sedang lelah.

Ketika kita lebih murah hati kepada diri sendiri dan fleksibel terhadap apa yang kita yakini, kita juga bisa lebih murah hati dan jarang memarahi anak. Sama seperti kita semasa kecil, anak-anak pun tumbuh dengan membuat kesalahan dan belajar melalui pengalaman-pengalaman tersebut. Itu adalah hak mereka.

Jika bisa sedikit terbebas dari keyakinan kita, kita bisa lebih memahami dan menerima perasaan kita.

Sebenarnya, sebagian amarah adalah nama lain dari kekhawatiran. Misalnya, kita khawatir anak tak dapat bersekolah dengan baik, karena itu kita ingin dia mengemas bekal dengan benar. Kita hanya ingin anak tumbuh sehat dengan mengajari mereka untuk tidak pilih-pilih makanan. Jadi, terkadang perasaan itu bukan amarah, tetapi kesedihan. Sesekali kita hanya ingin dia diam sebentar karena kita lelah dan ingin beristirahat. Ketika membuka bungkusan amarah akan ada perasaan yang akurat dan terperinci di dalamnya, seperti perasaan terluka, diperlakukan tidak adil, sedih, khawatir, cemas, frustrasi, depresi, lelah, dan takut.

Alasan amarah terjadi bukan karena lawan bicara. tetapi karena frustrasi dengan keinginan kita yang gagal terpenuhi. Karena itu, amarah bukanlah emosi yang harus kita tekan atau limpahkan kepada orang lain. Sebaliknya, kita perlu menjaga emosi itu dengan baik dan melihatnya secara cermat agar dapat memahami apa yang membuat kita frustrasi.

Jika yakin bahwa kita tak bisa beristirahat karena celotehan anak, daripada membentak, coba minta kerja sama anak dengan berkata agar dia diam sedikit. Beri pengertian bahwa ibunya sangat lelah karena tak bisa beristirahat. Katakanlah bahwa kita hanya ingin memejamkan mata 10 menit saja. Anak juga pasti ingin melakukan yang terbaik untuk membantu ibunya.


Perasaan yang mengikuti amarah, rasa bersalah yang membuat kita menciut

Setiap kali mendengar pengakuan para ibu, hatiku pun terasa sakit karena jadi teringat perkataan dan perlakuanku kepada putraku. Di masa-masa perceraianku, anakku sering terbangun dari tidur karena merasa tidak aman secara emosional. Waktu itu, aku yang juga sedang cemas tidak bisa mengerti kecemasannya. Karena itu. setiap anakku bangun dan menangis dengan keras, aku akan marah dan menjerit seperti orang kebakaran. "Jangan menangis! Ibu jadi tidak bisa tidur karena kamu!"

Terkadang aku sangat ingin kembali ke masa itu dan menjadi ibu yang "bijaksana", yaitu ibu yang dapat memahami anakku dan mampu mengatasi amarah dengan baik. Namun, waktu tidak mungkin diputar kembali. Hal ini terkadang membuatku jatuh ke dalam rasa bersalah yang tak terkendali.


Arti pertama dari rasa bersalah: Rasa bersalah eksistensial yang diperlukan untuk hidup berdampingan

Ada dua arti dari rasa bersalah. Yang pertama adalah rasa bersalah eksistensial.

Apakah yang harus kita lakukan saat menabrak seseorang di jalan dan dia terjatuh? Kita akan membantunya bangun dan berkata. "Apa kamu baik-baik saja? Maaf. aku tidak sengaja." Orang itu mungkin membalas, "Bagaimana, sih! Kenapa kamu menabrakku? Aku ini sangat sibuk, hati-hati, dong!" Setelahnya dia akan merasa alasan kita menabraknya tidak masuk akal dan memulai pertengkaran. Lalu, dia akan berkata, "Wah hari ini aku bertemu orang yang benar-benar sudah gila."

Dalam hidup kita memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang terjadi karena perilaku kita, baik itu kesalahan kecil atau merugikan orang lain.

Bila anak memukul temannya, kita akan mewakili anak meminta maaf kepada teman yang dipukul dan orang tua teman tersebut. Dengan begitu, masalah akan selesai.

Jika tidak diselesaikan, anak-anak lain akan merasa tidak nyaman bersama anak kita. Hal itu akan menjadi pengaruh buruk dalam pertemanan anak kita. Inilah yang dinamakan rasa bersalah eksistensial, proses yang penting bagi kita untuk hidup manusiawi dan saling berdampingan.

Rasa bersalah eksistensial adalah rasa bersalah yang timbul karena tindakan kita yang membawa dampak buruk kepada orang lain.


Arti kedua dari rasa bersalah: Rasa bersalah neurotik yang mengganggu dan tak membantu dalam hubungan sosial

Kita sering merasa bersalah, mengeluh, dan menyiksa diri sendiri. Aku bertemu banyak ibu dan berkaca kepada diriku sendiri, lalu kutemukan bahwa kami memiliki rasa bersalah neurotik ini.

"Maaf, aku yang salah. Semua ini salahku."

Mau sebanyak apa pun orang lain menjawab tidak apa-apa, keesokan harinya dia pasti akan berkata, "Maafkan aku. Aku rasa aku telah berbuat salah. Ada apa denganku?"

Jika rasa bersalah ini tertanam, sudah pasti ini tak akan membantu hubungan kita dengan orang lain. Rasa bersalah neurotik membuat kita sangat lemah.

Aku juga punya pengalaman. Saat anakku berusia 5 tahun, aku menemukan data rekaman suara di laptopku yang berisi hal paling memilukan bagiku. Aku sempat ragu, tetapi akhirnya aku buka data itu. Isinya adalah percakapanku dengan anakku.

Begitu mendengar suara anakku aku langsung.

"Namaku Kim. Nama ibuku yang cantik Park Jae Yeon."

Begitu mendengar suara anakku, aku langsung mematikannya. Aku tak bisa mendengarkan kelanjutannya karena menangis.

Setelah berpikir tentang alasanku merasa sakit saat mendengar suara putraku yang manis, tiba-tiba perasaan berikut muncul: 

Aku tak ingin memikirkan masa-masa itu. Rasa bersalah neurotik adalah rasa bersalah berlebihan daripada yang seharusnya. Rasa bersalah ini tak lagi menuntun kita kepada kebaikan moral, tetapi bersifat menyerang ke dalam diri sendiri (peny.).

Keadaanku yang sulit membuatku marah kepada anakku tanpa memperhatikan perasaannya. Aku sangat menyesal telah bersikap kasar sampai-sampai tak ingin mengingatnya kembali. Padahal, tak semua kejadian yang ku alami buruk, tetapi perasaan bersalah muncul di benakku seolah-olah aku tak pernah melakukan kebaikan.

Segala kejadian yang memicu rasa bersalah neurotik pada diriku mengarahkanku pada pemikiran bahwa aku adalah ibu yang kurang baik. Aku menyadari bahwa rasa bersalah yang berlebihan akan mengubah kenangan. Bahkan yang bahagia sekalipun. Contohnya, kenangan berharga yang terekam dalam data tadi.

Selama latihan komunikasi para ibu berkata. "Aku tak mau memikirkan tentang apa yang tak dapat kulakukan di masa lalu," atau "Aku menderita karena sangat menyesal." Ada juga para ibu yang menekan kenangan itu dan hanya membicarakan yang baik-baik saja.

Reaksi di atas muncul karena mereka takut di lubuk hatinya yang terdalam akan merasa, bagaimana jika aku membenci diriku sendiri? Jika merasa sangat bersalah, kita akan menjadi seperti orang jahat dan ibu yang tak cukup baik. Itulah mengapa kita tak ingin memikirkan penyesalan kita.


Mengatasi rasa bersalah dengan bijaksana

Apakah kita bisa tidak merasa bersalah kepada siapa pun selama hidup? Terutama selama hidup sebagai ibu. Bisakah kita sekali pun tak merasa bersalah kepada anak? Mungkin tak ada ibu yang seperti itu.

Ketika menjadi ibu, kita semua pasti ingin memberikan yang terbaik di dunia ini kepada anak, walaupun mungkin kondisi ekonomi kita belum mapan dan karakter kita tidak sempurna. Namun, rasanya apa pun yang kita berikan kepada anak selalu kurang dan malah menunjukkan sosok kita yang belum matang. Karena itu, kita selalu merasa bersalah. Jika mencermati rasa bersalah, kita dapat melihat bahwa rasa itu berasal dari keinginan memberikan yang terbaik dengan sungguh-sungguh kepada anak. Perasaan bersalah seorang ibu adalah sesuatu yang indah dan manusiawi.

Kalau begitu, sekarang apakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa bersalah itu? Kita harus terbebas dari rasa bersalah neurotik, juga bertanggung jawab dan menangani rasa bersalah eksistensial dengan baik.

Caranya, kita harus meminta maaf atas kesalahan kita dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk anak. Jika gagal membedakan antara rasa bersalah eksistensial dengan rasa bersalah neurotik, kita akan tenggelam dalam rasa bersalah yang tidak diketahui, sehingga kita tertekan akan tanggung jawab dan perasaan ingin melawan rasa bersalah tersebut. Hal ini sama sekali tidak membantu hubungan dan komunikasi satu sama lain.

Kita semua tahu bahwa tak ada orangtua yang sempurna di dunia ini. Yang bisa kita lakukan bukanlah berpikir menjadi orangtua terbaik, melainkan berkomitmen menjadi orangtua yang melakukan yang terbaik. 

Komunikasi Empati

Katakanlah kepada diri kita:

Saat akan marah katakan, "Rasanya tidak nyaman jika hal yang aku inginkan tidak terwujud."

Saat merasa bersalah katakan, "aku ingin berbuat lebih baik lagi untuk anakku."

Dengan meluangkan waktu berbicara kepada diri sendiri seperti ini, kita harus memperhatikan tanda-tanda yang ditunjukkan oleh amarah atau rasa bersalah.


Yeon, P.J. 2021. Seni Memahami Perasaan Anak. Bogor : PT Grafika Mardi Yuana.


Komentar