Cara Agar Kamu Selalu Bahagia

Tulisan ini dikutip dari buku yang berjudul "Ketika Kau Tumbuh Nanti, Nak" oleh Anwar Marwini. Sebuah buku yang berisi berbagai nasihat kehidupan dari Ayah untuk Anaknya.

CARA AGAR KAMU SELALU BAHAGIA


A. JADIKAN IMAN DAN HATIMU SUMBER KEBAHAGIAAN

Bagaimana caranya agar Kita menjadi orang bahagia?

Pertanyaan ini sederhana. Namun, untuk menjawabnya tidak sesederhana pertanyaannya. Selain itu, jika kita ditanya bagaimana caranya agar kita bahagia, maka kebahagiaan seperti apakah yang diinginkan oleh setiap manusia? Sebab, manusia memiliki pemahaman berbeda-beda terkait makna kebahagiaan itu sendiri. Ada orang yang menganggap bahwa kebahagiaan ditentukan oleh harta, sehingga mereka akan berusaha mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya agar bisa bahagia. 

Sementara itu, ada juga orang yang menganggap bahwa kebahagiaan ditentukan ketika mereka berhasil menduduki jabatan, mempunyai pangkat, dan lain sebagainya. Sehingga, apa pun akan dilakukan untuk memperoleh jabatan dalam hidupnya. Namun, ketahuilah, nak, bahwa selama kita masih berada di dunia ini, kebahagiaan sangatlah relatif.

Kamu bisa mengatakan bahwa hal yang akan membuatmu bahagia ialah harta benda. Sehingga, kamu akan selalu sibuk bekerja, mengumpulkan harta benda, dan lain sebagainya. Namun, kebahagiaan di dunia ini selalu ada batasnya. Kamu boleh saja mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya atau mengejar pangkat setinggi-tingginya, tetapi suatu saat kamu akan melupakan dan meninggalkan itu semua. Maka, untuk mengetahui cara berbahagia, jalan satu-satunya ialah mendekatkan diri kepada Tuhanmu.

Pikirkanlah sekali lagi betapa dunia ini ialah hal yang fana, tidak abadi. Hari ini kamu masih sehat dan gagah. Namun, beberapa tahun ke depan kamu akan tua, renta, kemudian meninggal. Itulah bukti betapa dunia ini tidaklah abadi, sehingga tidak mungkin kamu menyandarkan kebahagiaanmu kepada sesuatu yang tidak abadi.

Selain mendekatkan diri kepada Tuhan, cara lain agar kita bisa selalu bahagia ialah selalu menata, menjaga, dan memperbaiki hati. Mengapa harus hati, bukan tubuh, wajah, dan anggota badan kita yang harus dijaga? Sebab, di hadapan Tuhan, bentuk rupa fisik kita tidak ada artinya. Tuhan tidak akan melihat tubuhmu bagus atau tidak, tetapi yang diperhatikan oleh Tuhan ialah hatimu baik atau tidak.

Kemudian, apa yang akan kamu banggakan, nak, bila suatu saat semua yang melekat dalam dirimu akan sirna dan tidak berharga? Jika selama ini kita cenderung mendewakan harta kekayaan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat menjadikan kita terlihat begitu mulia dan bahagia, maka di hadapan Tuhan semua itu tidak berguna bila hati dan perbuatanmu justru menyalahi perintah-Nya.

Rasulullah Saw. menegaskan dalam salah satu sabdanya, bahwa Allah Swt. sama sekali tidak memperhatikan bentuk rupa dan kekayaan seseorang, melainkan yang diutamakan ialah hati dan perbuatan orang itu. Allah Swt. menjadikan hati manusia sebagai fokus pandangan-Nya karena inti dari kehidupan manusia itu terletak pada hatinya. Di dalam hati yang bersih dan suci itulah ketakwaan berada, iman bersinar, dan semua itu memengaruhi perilaku yang terpuji.

Akan tetapi, sayangnya manusia lebih memilih menata dan merias wajahnya daripada berpikir memperbaiki dan menjaga hatinya. Banyak orang hanya memikirkan cara menumpuk harta dan mengurus tubuh, tetapi membiarkan hatinya kosong dan hampa dari iman. Sehingga, kehidupannya akan jauh dari ketenangan. Dalam salah satu nasihatnya, Ibnu Qayyim mengatakan, "Bersungguh-sungguhlah kamu dalam menghadirkan Allah. Renungkan makna dari ucapanmu saat beribadah. Bersungguh-sungguhlah dalam mengusahakan terlaksananya sifat-sifat yang membuat Allah menyukaimu, dan jauhilah sifat-sifat yang menyebabkan Allah tidak menyukaimu. Serta fokuskanlah kesungguhanmu kepada urusan hati dan batin."

 

B. TAWAKKAL DAN SERAHKAN SEMUANYA KEPADA TUHAN


Kata tawakkal dapat diartikan sebagai mewakilkan. Ketika kita mengatakan bertawakkal kepada Tuhan, artinya kita mewakilkan semua urusan kita kepada-Nya. Kita memasrahkan urusan kita kepada Allah Swt. yang Maha Mengatur segala urusan dengan sebaik-baiknya.

Kita pantas dan patut bertawakkal atau mewakilkan urusan kita kepada Allah Swt. Sebab, sebagai Dzat yang menerima perwakilan, Allah Swt. memang memiliki kemampuan Maha Sempurna untuk menjalankan semua yang diwakilkan kepada-Nya. Sebaliknya, kita tidak bisa bertawakkal kepada selain Allah Swt., karena segala sesuatu selain Allah Swt. memiliki keterbatasan dan kelemahan. Oleh karena itu, tidak mungkin kita mewakilkan suatu urusan kepada pihak lain yang tidak memiliki kemampuan menerima amanat perwakilan tersebut.

Allah Swt. dapat menjadi tempat bertawakkal tidak hanya bagi perorangan. Namun, kekuasaan dan kebesaran Allah Swt. justru mampu menerima perwakilan dari urusan seluruh umat manusia di dunia. Dengan demikian, menyerahkan urusan kita kepada-Nya (tawakkal) merupakan hal yang semestinya mengingat tidak ada siapa pun selain Allah Swt. yang benar-benar mampu menjaga dan menjalankan amanat perwakilan itu dengan sebaik-baiknya.

Meskipun begitu, bertawakkal memiliki tata cara tersendiri. Kita bertawakkal kepada Allah Swt. atas urusan yang kita sendiri sudah berupaya sebelumnya. Tawakkal pada saat kita mengalami musibah dapat dilakukan setelah sebelumnya kita berusaha bersabar. Dengan kata lain, tawakkal ialah menyerahkan urusan selanjutnya dari suatu urusan yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Tawakkal seperti itulah yang tercermin dalam firman Allah Swt. dalam QS. Ali Imran: 159, "Maka, disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Tawakkal merupakan wujud keimanan seseorang kepada Allah Swt. Di dalam tawakkal, kita menunjukkan ketergantungan hanya kepada Allah Swt., menyadari bahwa tidak ada yang dapat membantu dan memberikan pertolongan dengan sebaik-baiknya selain pertolongan-Nya. Kesadaran seperti ini diharapkan dapat mengantarkan kita kepada perasaan yang tenang, damai, dan bahagia dalam menghadapi berbagai situasi dalam hidup ini.

 

C. BAIK SANGKA KEPADA TUHAN


Nak, Ibnu Mas'ud meriwayatkan sebuah kisah bahwa suatu hari ada wanita Anshar datang menghadap Rasulullah Saw. bersama sepuluh orang putranya. Wanita tersebut berkata, "Ya Rasulullah, mereka adalah anak-anakku. Kupersembahkan semuanya untukmu. Ajaklah mereka berjihad di jalan Allah Swt."

Akhirnya, sepuluh anak-anak wanita tadi pun diizinkan ikut berperang bersama Rasulullah Saw. Namun, hanya sembilan orang syahid. Mendengar kesembilan anaknya gugur di medan juang, sang ibu tersebut merasa sangat bahagia dibanding melihat satu orang anaknya yang selamat. Dan, di kemudian hari, Satu anaknya yang selamat itu justru banyak menyimpang dari ajaran Islam dan melakukan dosa.

Maka, tibalah pada suatu hari si anak tersebut tertimpa penyakit. Sang ibu tak kuasa melihatnya. la begitu kasihan dan sedih melihat anak terakhirnya ini menderita penyakit. Melihat ibunya, anak itu bertanya, "Ibu, semua saudaraku lebih baik dariku, tetapi ibu tidak menangisi mereka. Kenapa ibu malah menangisi putramu yang pendosa ini?" Sang ibu menjawab, "Karena itulah aku menangis, nak."

Selama ini, ia tidak pernah mengkhawatirkan putranya yang syahid karena mereka pasti mendapat kenikmatan di sisi Allah Swt, tapi ia begitu mengkhawatirkan putranya yang pendosa ini.

Menjelang akhir hayatnya, anak itu berkata, "Ibu, aku berbuat salah atau melanggar hakmu, sementara di tanganmu ada api yang menyala-nyala, apakah kau akan melemparkannya kepadaku?"

"Tidak mungkin itu aku lakukan," jawab sang ibu.

"Kalau begitu, ibu tidak usah bersedih. Sebab, bukankah ibu tahu bahwa yang Menciptakanku lebih penyayang daripada yang melahirkanku?" kata sang anak. Lalu, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Mendengar kisah ini, Rasulullah Saw, berkata kepada wanita Anshar tadi, "Kabar gembira untukmu, sebab anakmu telah diampuni oleh Allah karena dia telah berbaik sangka kepada Tuhannya. Wallahu Alam."

Itulah manfaat berbaik sangka kepada Allah Swt. Dengan berbaik sangka kepada-Nya, Allah Swt. juga akan membalas sangkaan kita dengan kebaikan sebagaimana kita telah berprasangka baik kepada-Nya. Dalam hadits qudsi dijelaskan bahwa Allah Swt. berfirman, "Aku sebagaimana persangkaan para hamba-Ku kepada-Ku." Hal ini mencerminkan bahwa berbaik sangka kepada Allah Swt. akan melahirkan kebaikan yang serupa, demikian pula sebaliknya.

Ibnu Athaillah al-Sakandari dalam kitabnya berkata, "Jika kamu tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-Nya, maka berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya kepadamu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kebaikan?"

Lebih lanjut, Al-Sakandari menjelaskan bahwa dalam berbaik sangka kepada Allah Swt., manusia terbagi menjadi dua golongan. Pertama, golongan khusus, yaitu orang-orang yang mampu berbaik sangka kepada Allah Swt. atas sifat-sifat-Nya yang baik. Kedua, golongan umum, yaitu orang-orang yang hanya mampu berbaik sangka kepada Allah atas perlakuan-Nya yang baik berupa karunia dan kenikmatan yang diberikan.

Di antara dua maqam tersebut, Al-Sakandari menekankan pentingnya berbaik sangka kepada Allah Swt. secara mutlak, baik atas manfaat yang Dia berikan maupun atas kesusahan yang ditimpakan bahwa keduanya merupakan wujud akan sifat-sifat- Nya yang Maha Baik

 

D.GANTUNGKAN HARAPANMU KEPADA TUHAN


Di dalam Islam, sikap selalu penuh harap kepada Allah Swt. disebut dengan raja’, yakni mengharap akan karunia dan rahmat-Nya, kekuatan, dan pertolongan-Nya, baik dalam menghadapi kemudahan hidup maupun kesulitan-kesulitannya. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, pengharapan kepada Allah Swt. merupakan langkah tepat yang dapat membawa hati kita kepada-Nya. Di samping itu, sikap penuh harap kepada Allah Swt. merupakan kepercayaan yang kuat dalam hati seseorang akan kemurahan dan belas kasih Allah Swt. Sehingga, dengan adanya pengharapan dan keyakinan tersebut, kita tidak mudah putus asa dan putus harapan serta selalu ada optimis. Sebab, Allah Swt. selalu membantu kita dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan yang kurang menyenangkan.

Sebagaimana tawakkal, pengharapan kepada Allah Swt. juga harus disertai dengan usaha maksimal. Setidaknya, berharap kepada Allah Swt. dibagi ke dalam empat macam. Pertama, pengharapan untuk bisa selalu taat kepada-Nya berdasarkan petunjuk dari-Nya. Kedua, pengharapan akan ampunan-Nya sesudah orang tersebut melakukan dosa kepada-Nya. Ketiga, pengharapan akan karunia-Nya. Keempat, banyak berharap kepada-Nya, tetapi tidak mengerjakan perintah-Nya. Harapan yang terakhir ini merupakan harapan kosong dan sia-sia semata. Sebab, bagaimana mungkin kita berharap yang terbaik dari Allah Swt. jika kita ingkar kepada-Nya?

Allah Swt. berfirman, "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87).

Pengharapan yang tinggi kepada Allah Swt. diperlukan oleh setiap orang-orang yang beriman kepada-Nya. Sebab, sikap penuh harap kepada Allah Swt. akan mendorong kita untuk selalu taat kepada-Nya. Tanpa adanya dorongan pada ketaatan pengharapan, kita sia-sia belaka. Hal ini disebabkan karena hakikat pengharapan tidak lain ialah kesabaran hati menanti pertolongan Allah Swt. melalui cara yang ditentukan oleh-Nya.

Di samping itu, biasanya pengharapan berkaitan dengan perasaan takut kepada-Nya. Penuh harap dan takut kepada Swt. ini bagaikan sayap yang untuk mencapai kemuliaan di sisi-Nya serta dalam rangka menggapai ridha dan ampunan-Nya."

 

E. RIDHA KEPADA SEMUA KETENTUAN TUHAN


Ridha terhadap segala ketentuan Allah Swt. merupakan sikap yang tidak kalah penting dimiliki oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. Dengan memiliki sikap ridha, kita tidak mudah merasa ragu, kecewa, mengeluh, dan putus asa terhadap segala ketentuan Allah Swt.

Dengan ridha, kita tidak mudah menyesal dan menggerutu atas apa pun yang menimpa kita dalam hidup ini. Dengan sikap ridha, kita meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini senantiasa berada di dalam rencana dan pengaturan Allah Swt.

Sikap orang-orang yang memiliki sikap ridha ini diabadikan di dalam al-Qur'an. Jikalau mereka sungguh- sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata, Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya. Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).

Keharusan kita untuk selalu bersikap ridha terhadap ketentuan Allah Swt. tidak lain karena sesungguhnya kejadian apa pun yang menimpa manusia merupakan ketentuan-Nya semata. Sedangkan, segala ketentuan Allah Swt. tidak ada yang sia-sia. Selalu ada hikmah dan kebaikan di balik berbagai kejadian itu.

Allah Swt. akan mengganti kesedihan kita dengan kabar gembira selama kita bersikap ridha dan berbaik sangka kepada-Nya. Selain Allah Swt. juga akan menambah kebaikan bila ketentuan-Nya itu merupakan anugerah,"

 

F. JANGAN LUPA BERDOA


Ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup atau musibah dan merasa tidak mendapatkan kebahagiaan dalam hidupmu, berdoalah kepada-Nya. Doa yang baik ialah doa yang dilakukan dengan perasaan rendah hati kepada Allah Swt. Perasaan rendah hati ketika berdoa menandakan betapa kita ialah makhluk yang lemah dan tidak memiliki daya upaya dalam menghadapi musibah selain dengan pertolongan-Nya.

Allah Swt. berfirman. "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Sebagaimana shalat, berdoa juga harus dijadikan sebagai aktivitas harian dalam hidup kita. Baik dalam keadaan susah maupun senang, berdoa harus selalu dilakukan. Sebab, doa menjadi salah satu sarana kita berkomunikasi dengan Allah Swt. Ketika berdoa, kita dapat mengutarakan berbagai harapan dan keinginan kepada-Nya.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan seseorang berdoa kepada Allah Swt. hanya pada saat mereka susah. Sedangkan, pada saat senang mereka justru tidak mau berdoa kepada-Nya. Salman al-Farisi berkata, "Jika dalam keadaan senang seseorang sering berdoa kepada Allah Swt., lalu tiba-tiba ia mendapatkan musibah, kemudian berdoa kepada-Nya, maka para malaikat berkata, 'Ini suara yang tidak asing. Lalu, para malaikat ikut mendoakan agar doanya dikabulkan. Adapun bila dalam keadaan senang seseorang tidak pernah berdoa, kemudian ia ditimpa musibah dan berdoa, maka para malaikat berkata, 'Suara ini asing sekali sehingga para malaikat tidak ikut mendoakan."

 

G. JANGAN DENGKI, SOMBONG, DAN RIYA'


Kedengkian dan sifat iri termasuk penyakit hati. Ketika penyakit ini menimpa seseorang, cepat atau lambat sudah pasti akan mendatangkan musibah yang sangat merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Kedengkian juga menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Musibah paling nyata ketika kita dilanda perasaan iri hati dan dengki pada orang lain ialah hilangnya ketenangan dan kebahagiaan. Orang yang hatinya dengki setiap saat selalu diliputi oleh rasa gelisah, emosinya gampang tersulut, dan apabila tidak mendapatkan jalan keluar yang paling baik atas masalah tersebut maka dapat mendorong perbuatan yang dilarang oleh agama.

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa sifat dengki dan iri hati bagaikan sebuah api yang membakar kayu-kayu kering. Artinya, kedengkian menjadikan penyebab terjadinya banyak kerugian sekaligus kesia-siaan bagi kita. Sebab, kedengkian dapat menghilangkan kebaikan. Oleh karena itu, dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Saw. mengingatkan kita untuk menghindari dengki.

"Dari Anas bin Malik Ra., bahwasanya Rasulullah Saw. telah bersabda, Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, dan saling membelakangi (memusuhi)! Namun, jadilah kalian hamba- hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak boleh memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari." (HR. Muslim).

Menurut Nurcholish Majid, meskipun kelihatannya sepele, iri hati dan dengki merupakan perbuatan sangat berbahaya. Sebab, kedengkian merupakan gejala permusuhan psikologis secara sepihak. Orang yang memiliki kedengkian di dalam hatinya bisa saja melakukan perbuatan fatal yang dianggapnya benar."

Mengingat betapa berbahayanya sifat dengki dan iri hati ini, bahkan al-Qur'an mengajarkan kepada kita untuk meminta perlindungan kepada Allah Swt., khususnya dari orang-orang yang dengki, Dan, dari kejahatan pendengki bila ia dengki.

Penting dicatat bahwa kedengkian atau iri hati dapat menjadi sumber musibah pada diri sendiri ialah kedengkian yang berhubungan dengan masalah keduniaan, harta benda, atau materi. Artinya, kita tidak rela dengan harta yang dimiliki orang lain tersebut dan menginginkan agar harta itu pindah ke tangan kita.

Orang yang ditimpa perasaan iri hati atau dengki selalu merasa bahwa semua yang didapatkan orang lain jauh lebih besar dari semua yang sudah Allah Swt. karuniakan kepada dirinya. Dengan demikian, mereka lupa bersyukur dan terus menerus tertekan oleh perasaan bahwa dirinya yang paling berhak memperoleh karunia Allah Swt. yang diberikan kepada orang lain tersebut. Inilah kedengkian yang dilarang oleh agama.

Tetapi ada kedengkian yang justru tidak dilarang oleh agama. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw. "Dari Salim, dari ayahnya Ra, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, "Tidak boleh dengki, kecuali pada dua hal. Pertama, orang yang diberi Allah kepandaian dalam membaca dan memahami al- Qur'an, ia membacanya siang dan malam hari. Kedua, orang yang dianugerahi harta benda oleh Allah dan ia menafkahkannya siang dan malam hari." (HR. Muslim).

Kedengkian seperti ini tidak dipermasalahkan dalam agama karena kita dengki bukan pada kepemilikan seseorang atas sesuatu, melainkan dengki kepada kebaikan orang tersebut. Kedengkian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi kita untuk berbuat lebih baik. Dengki kepada orang yang memahami al-Qur'an diharapkan dapat memotivasi kita untuk tekun belajar al-Qur'an dan mengamalkannya. Dengki kepada orang kaya yang dermawan diharapkan dapat memotivasi kita untuk bisa meniru kedermawanannya, bukan menginginkan hartanya.


Terkait sombong, Salim bin 'Id al-Hilali dalam bukunya mengartikan sombong sebagai sikap memandang dan menilai diri sendiri lebih tinggi dari kebenaran dan sesama manusia. Dengan demikian, orang sombong cenderung melihat berbagai sifat kesempurnaan melekat dalam dirinya, sehingga ia juga cenderung memandang rendah orang lain."

Tidak hanya itu, ketika dilanda sikap sombong, seseorang tidak hanya memandang rendah orang lain dan memandang sempurna dirinya sendiri. Namun, yang paling berbahaya ialah mereka memandang dirinya lebih tinggi dari kebenaran. Oleh karena itu, biasanya orang yang sombong juga mudah menolak kebenaran dan menganggap kebenaran itu seperti sebuah ancaman bagi dirinya.

Oleh karena itu, dalam salah satu riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. mengartikan sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Bagi orang sombong, ketika kebenaran sudah dianggap sebagai ancaman, maka tidak sulit bagi mereka untuk menghina dan merendahkan orang lain.

Kesombongan dapat menjadi sumber musibah bagi kita karena sifat ini tidak sukai oleh Allah Swt. Dalam al-Qur'an QS. Luqman: 18, Allah Swt. menegaskan, "Dan, janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka Bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita dapat merasakan bahwa tidak satu orang pun yang senang dengan orang sombong, Mereka cenderung dijauhi, bahkan dikucilkan. Orang sombong akan selalu tersisih dari pergaulan. Kehadirannya di tengah-tengah masyarakat kerap dipandang sebagai sebuah ancaman dan bencana.

Akan tetapi, tidak hanya di dunia mereka akan terkucilkan. Di akhirat, orang sombong juga akan menjadi kelompok manusia yang tersisih. Mereka tidak akan dihiraukan oleh Allah Swt. sebagaimana penjelasan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, "Dari Abdullah bin Umar Ra., bahwasanya Rasulullah Saw. berkata, "Allah tidak akan melihat pada hari kiamat kelak-kepada orang yang mengenakan pakaiannya karena sombong." (HR. Muslim).

Hadits tersebut mengaitkan kesombongan dengan pakaian atau sesuatu yang bersifat material. Sedangkan, berbagai hal yang bersifat material itu dapat berupa pakaian jabatan, harta benda, ilmu, keluarga, dan lain sebagainya. Sehingga, jabatan, kekayaan, nasab, dan ilmu merupakan pencetus lahirnya kesombongan dalam diri seseorang.

Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah Saw. menegaskan perihal banyak orang sombong yang kelak akan ditempatkan di dalam neraka, "Dari Haritsah bin Wahab Ra., ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bertanya, 'Maukah kalian aku beritahukan tentang penghuni surga? Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau, ya Rasulullah”, Kemudian, Rasulullah Saw. bersabda, "Yaitu setiap orang yang lemah dan yang selalu diremehkan orang lain. Apabila ia bersumpah nama Allah, maka akan dikabulkan sumpahnya.” Rasulullah Saw. bertanya lagi, “Maukah kalian aku beritahukan tentang penghuni neraka?” Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau, ya Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang besar mulut dan rakus, bengis, serta sombong." (HR. Muslim).

Nak, agar kamu bahagia, hindarkan juga rasa selalu ingin dipuji orang lain atau riya’. Para ulama memiliki pendapat beragam tentang arti riya: Secara bahasa, riya' adalah memperlihatkan sesuatu berbeda dengan hal yang dimaksud dalam hati. Haris al-Muhasibi mengartikan riya' sebagai ketaatan kepada Allah Swt. yang ditujukan kepada manusia. Sedangkan, Al-Ghazali mengartikan riya' adalah menjadikan amal kebaikan sebagai kedok untuk mencari popularitas dan kebanggaan.

Menurut Al-Qurthubi, hakikat riya' adalah mencari sesuatu yang bersifat duniawi melalui ibadah. Sedangkan, pokok riya' adalah mencari kedudukan dalam pandangan manusia. Lebih anjut, Al-Qurthubi mengatakan bahwa riya' ialah mengerjakan ibadah yang diperintahkan Allah Swt. untuk sesuatu yang selain Allah Swt.

Jika beberapa pendapat tersebut menyatakan bahwa melakukan perbuatan demi mendapatkan penilaian manusia merupakan riya, Fudhail bin lyadh memberikan penjelasan yang sedikit berbeda. Menurut lyadh, riya' adalah tidak melakukan suatu amal karena orang lain. Namun, melakukan suatu amal karena orang lain adalah syirik.

Secara tidak langsung, lyadh ingin menjelaskan bahwa perbedaan antara riya' dan syirik sangat tipis. Jika seseorang tidak jadi melakukan suatu amal karena takut dengan penilaian orang lain, justru itulah yang dikatakan riya’. Sedangkan, jika melakukan suatu amal demi memperoleh penilaian orang lain, maka hal itu bukan riya’, melainkan syirik. Solusi agar terhindar dari keduanya menurut lyadh ialah ikhlas.

Pesan terpenting dalam pendapat lyadh terkait riya tersebut ialah kita harus belajar untuk tidak tergantung pada pandangan, kesan, dan pendapat orang lain terkait suatu amal. Ketika hendak melakukan suatu amal atau tidak melakukannya sama sekali, dipastikan bahwa kita bersikap demikian bukan karena orang lain atau makhluk. Hanya dengan cara seperti itu kita akan belajar tentang keikhlasan.

Riya' menjadi sumber musibah bagi diri sendiri. Sebab, sifat itu menjadikan kita tersiksa dan rugi karena kita berbuat sesuatu hanya demi orang lain. Sedangkan, kita tidak mendapatkan apa-apa dari mereka. Kalaupun kita mendapatkan pujian karena amal kita, pujian itu pun bersifat semu mengingat penilaian yang paling penting dari setiap amal yang kita lakukan ialah penilaian Allah Swt. Musibah selanjutnya terkait riya' digambarkan dalam al-Qur'an sebagai berikut.

"Maka, kecelakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya,”

Di dalam ayat lain, Allah Swt. menggambarkan bahwa jika suatu amal yang dikerjakan dengan maksud pamer atau riya’ maka pahala dari amal tersebut sama sekali tidak membekas atau sia-sia belaka.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan: dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir."

Beberapa uraian tersebut menunjukkan bahwa riya’ merupakan sumber musibah bagi kita. Musibah yang ditimbulkan oleh riya' memang tidak terasa menyakitkan secara fisik sebagaimana kita mendapatkan musibah seperti terjatuh, tersambar api, terkena longsor, dan lain sebagainya. Namun, riya' menjadi musibah spiritual kita, terutama karena ternyata amal yang kita lakukan selama ini atas dasar riya' tidak meninggalkan bekas apa-apa selain kesia-siaan belaka.

 

H. MILIKI RASA MALU. TAKUT KEPADA TUHAN, DAN MENGHILANGKAN DENDAM


Dalam sebuah riwayat dikatakan, bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib berada di pasar bersama pembantunya yang bernama Qanbar. Di pasar itu, Ali membeli dua baju di mana baju yang lebih bagus diberikan kepada Qanbar, sedangkan Ali memilih baju yang tidak terlalu bagus untuk dirinya. Melihat hal itu, Qanbar merasa heran dan bertanya, "Mengapa tuan memberikan kepada saya baju yang lebih bagus? Sementara, tuan adalah majikan saya dan khalifah Kaum Muslim dan lebih layak mengenakan baju yang lebih bagus dari saya."

"Aku malu kepada Allah apabila aku mengutamakan diriku daripada engkau," demikian jawaban Ali.

Jawaban Ali memang cukup singkat, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam untuk direnungkan, sebab di balik jawaban itu terdapat pelajaran yang begitu hebat.

Pertama, Ali mengajarkan bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, ia tetap harus memiliki rasa malu, terutama kepada Allah Swt. Malu merupakan sikap yang secara tidak langsung dapat menjadi pengontrol bagi seseorang dari melakukan berbagai hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Islam memandang malu sebagai sifat yang menenteramkan sebagaimana sabda Rasulullah Saw. berikut ini. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Abu As Sawwar Al 'Adawi la berkata; 'Saya mendengar 'Imran bin Hushain berkata; 'Rasulullah Saw. bersabda; 'Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan. Maka, Busyair bin Ka'b berkata; Telah tertulis dalam hikmah, sesungguhnya dari sifat malu itu terdapat ketenangan sesungguhnya dari sifat malu itu terdapat ketenteraman Maka Imran berkata kepadanya; 'Aku menceritakan kepadamu dari Rasulullah Saw., sementara kamu menceritakan kepadaku dari catatanmu." (HR. Bukhari).

Kedua, rasa malu yang ditunjukkan Ali bin Abi Thalib merupakan puncak tertinggi dari seluruh perasaan malunya karena menjadikan Allah Swt. sebagai pertimbangan utama dari perasaannya dan tindakannya. Ali lebih merasakan malu kepada Allah Swt. daripada harus malu kepada bawahannya dan orang lain. Biasanya, jika orang merasa malu kepada Allah Swt., maka perasaannya itu akan membimbing dan mengontrol seluruh tindakannya, serta menjadikan yang bersangkutan dapat bersikap lebih hati-hati di hadapan siapa pun.

Rasulullah Saw. mengatakan bahwa malu merupakan bagian dari keimanan. "Bila kalian tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan." Demikian sabda beliau. Hal ini berarti bahwa perasaan malu memungkinkan bagi seseorang untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak patut. Masih beruntung seseorang yang di dalam hatinya masih memiliki rasa malu. Sebab, ketika rasa malu sudah tidak ada lagi, manusia bisa melakukan berbagai tindakan tidak terpuji yang menjadikannya mirip hewan.

Al-Qur'an menempatkan rasa malu sebagai bagian dari kebenaran. Hal ini dapat dilihat dalam QS. al-Ahzab: 53. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya). Namun, jika kamu diundang, maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya, yang demikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan, tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya, perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah."

Ayat tersebut menjelaskan salah satu sifat Rasulullah Saw. sebagai pribadi yang memiliki rasa malu serta mengandung pelajaran mengenai etika bertamu kepada nabi. Secara umum etika bertamu sebagaimana digambarkan dalam ayat tersebut bisa berlaku bagi siapa pun. Artinya, ketika bertamu, kita harus menunggu izin tuan rumah sebelum memasuki rumah mereka, dan segera pulang ketika keperluan sudah selesai.

Selain pentingnya memiliki rasa malu, manusia juga perlu memupuk rasa takut kepada Allah Swt. Dalam hidup, manusia pasti memiliki rasa takut. Namun, rasa takut itu ada terhadap sesama makhluk lain dan ada juga kepada kejadian atau peristiwa yang diyakini dapat memberikan penderitaan, seperti takut pada bencana alam dan lain sebagainya. Al-Naragi mengemukakan bahwa ada dua jenis rasa takut pada manusia. Pertama, takut kepada Allah Swt. Ketakutan ini merupakan ketakutan yang terpuji dan memang pada tempatnya. Ketakutan seperti ini disebut khasyyah dan rahbah yang biasanya dimiliki oleh para ulama.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Faathir: 28, "Sesungguhnya, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Faathir: 28).

Oleh sebagian ahli tafsir, kata 'ulama' pada ayat tersebut dipahami sebagai orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Artinya, ketika seseorang benar-benar memiliki pengetahuan yang memadai akan kekuasaan dan kebesaran Allah Swt., mereka akan sampai pada satu kesimpulan bahwa apa pun selain diri-Nya ialah sesuatu kecil dan lemah, karena itu tidak perlu ditakuti.

Di dalam al-Qur'an, banyak sekali ditemukan ayat yang berisi perintah agar manusia senantiasa memiliki rasa takut kepada Allah Swt. "Dan, dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan, di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka, janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan, agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk." (QS. al-Baqarah: 150).

"Dan, hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. an Nisaa': 9).

"Dan, janganlah kamu membuat kerusakan di muka Bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-A'raaf: 56).

Ketakutan yang kedua ialah takut terhadap kemungkinan buruk yang muncul dari khayalan kita. Perasaan takut seperti ini memang tidak bisa dihalang-halangi dan sifatnya manusiawi. Orang takut miskin, mati, sakit, hingga tidak mendapatkan pekerjaan merupakan berbagai jenis ketakutan yang wajar dan kerap membuat hati tidak tenang.

Namun, berbagai perasaan takut semacam itu harus segera dikembalikan dan disandarkan kepada Tuhan dengan senantiasa berdoa dan berikhtiar sesuai aturan yang telah digariskan oleh-Nya. Ketika seseorang menyandarkan rasa takutnya kepada Tuhan, rasa takut itu tidak akan menimbulkan berbagai perilaku tidak terpuji.

Tidak sedikit manusia yang karena terlalu takut kekurangan harta benda kemudian melakukan apa pun untuk r memperoleh semua yang ditakutkannya. Dan, mereka tentu tidak akan sampai berbuat demikian seandainya perasaan takutnya disandarkan tidak hanya pada khayalannya, melainkan kepada Allah Swt.

Ketakutan yang disandarkan kepada Tuhan seperti itulah yang dapat ketenangan dan kebahagiaan sebagaimana firman Allah Swt. di dalam al-Qur'an, "Dan, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)." (QS. an-Naazi'aat: 40-41).

Salah satu manfaat memupuk dan memunculkan rasa takut kepada Allah Swt. ialah terkadang perasaan itu dapat mengusik kesadaran keimanan. Sehingga, orang yang sebelumnya lalai, karena munculnya rasa takut kepada-Nya tersebut dapat menjadi kembali sadar.

Sebuah kisah menceritakan bahwa konon ulama bernama Abu Hisyam al-Mudzakkir ingin melakukan perjalanan dari Bashrah. la menumpang sebuah perahu yang ternyata di atas perahu itu ada pemuda yang duduk berduaan dengan wanita, Ketika Abu Hisyam hendak naik ke atas perahu, pemuda itu tidak memperbolehkan Abu Hisyam ikut naik. Namun, teman wanita pemuda tadi bersikeras meminta kepada pemuda itu agar Abu Hasyim tetap dibiarkan naik. Setelah perahu berlayar, pemuda tu meminta kepada teman wanitanya untuk disiapkan makanan dan minuman. "Panggil juga orang miskin itu agar dia bisa ikut bersama kita," kata si pemuda.

Abu Hisyam pun memenuhi ajakan pemuda itu. Setelah selesai makan, pemuda itu kembali minta diambilkan anggur dan meminta agar Abu Hisyam mau ikut meminum bersamanya. Namun, Abu Hisyam menolak ajakannya sambil berkata, "Semoga kamu senantiasa mendapatkan rahmat Allah, dan sesungguhnya bagi tamu itu ada haknya juga."

Pemuda itu menenggak anggurnya dan ketika minuman itu telah memengaruhi kesadarannya, ia berkata lagi kepada wanita yang melayaninya, "Ambilkan aku kayu atau apa saja yang ada padamu."

Wanita yang senantiasa setia melayani pemuda itu bergegas dan mengambilkan benda yang diminta. Saat menyerahkan kayu yang dimintanya, si wanita itu menyenandungkan sebuah syair, "Kita semua bagaikan dua cabang pohon, yang satu sama lain tak mampu menggeser sahabat karib. Dia telah menggantikan aku sebagai sahabatnya dan aku pun mencari sahabat yang lain, aku telah meninggalkannya di saat dia hendak menjauhiku. Ingat, Allah telah mencela setiap orang yang tidak ikhlas, yang menjadi sahabat di waktu senang saja, bukan sahabat di waktu susah."

Setelah menyelesaikan senandungnya, wanita itu bertanya kepada Abu Hisyam, "Apakah kamu mengetahui syair yang lebih baik dari ini?"

"Bahkan, aku mengerti yang lebih baik dari itu," jawab Abu Hisyam sambil melantunkan sebuah ayat dalam al-Qur'an, "Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan." (QS. at Takwir: 1-3). Mendengar ayat yang dibacakan Abu Hisyam, pemuda itu melempar kayu yang dipegangnya. Juga botol anggur yang dipegangnya. la menangis ketika Abu Hisyam sampai pada bacaan, “... Dan, apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka." (QS. at-Takwiir: 10). Setelah itu, ia berkata kepada si wanita, "Wahai Fulanah, pergilah. Sekarang kamu aku merdekakan karena Allah," kata pemuda itu kepada si wanita yang ternyata pembantunya.

Tidak hanya itu, kemudian si pemuda menghambur ke pelukan Abu Hisyam sambil berkata, "Wahai sahabatku. Apakah kamu percaya bahwa Allah berkenan menerima taubatku?"

Sejak itulah mereka berdua menjadi sahabat yang sangat karib selama empat puluh tahun lamanya."

Kemudian, sucikan hatimu dari dendam. Sebab, salah satu cara setan untuk menggelincirkan manusia dari jalan kebaikan dan kebenaran ialah dengan memancing kebencian dan perasaan dendam. Dua perasaan inilah yang mencetuskan terjadinya pembunuhan pertama kali dalam sejarah manusia. sebagaimana dialami oleh Qabil dan Habil putra Nabi Adam As. Dendam dan kebencian merupakan penyakit hati yang membuat kita kehilangan rasa damai. Tidak ada ketenangan bagi orang yang hatinya penuh dendam dan kebencian. Dan, perlu diketahui bahwa benci dan dendam jauh lebih menyakitkan daripada terlukanya badan akibat sabetan pedang.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda, Sesungguhnya, pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Semua dosa hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni, kecuali bagi orang yang antara dia dan saudaranya terdapat kebencian dan perpecahan. Lalu, dikatakan; Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai," (HR. Muslim).

Di mana pun, para pembenci dan pendendam tidak akan pernah merasakan kedamaian karena kebencian akan selalu mendatangkan banyak musuh bagi mereka. Oleh karena itulah, Islam sangat tegas mengingatkan kita akan bahaya kedua sifat ini. Islam menekankan pentingnya persaudaraan yang dibangun di atas rasa cinta dan kasih sayang.

M Yusuf Al-Qardhawi mengemukakan betapa manusia di dunia ini hendaknya hidup di tengah masyarakat dengan sikap saling mencintai dan menolong di mana perasaan itu harus diikat oleh perasaan layaknya anak dalam satu keluarga. Oleh karena itu, di antara sesama kita harus saling mencintai, saling menolong.

Lebih lanjut, Yusuf Al-Qardhawi juga mengemukakan bahwa benci, dendam, dan permusuhan merupakan suasana yang pengap, busuk, menyesakkan, dan tidak menyenangkan. Ketika seseorang dilanda kebencian dan dendam, pada saat itulah setan akan menjual barang dagangannya berupa buruk sangka, mencari kesalahan orang lain, ghibah, adu domba, bohong, saling melaknat, bahkan bisa juga sampai kepada tindakan saling membunuh dan sebagainya, yang semua itu dapat mengundang murka Allah Swt.

Di dalam al-Qur'an, kita dapat menemukan firman Allah Swt. yang berkali-kali mengingatkan manusia untuk berhati-hati dengan kebencian dan dendam. Dua perasaan ini, selain dapat menyebabkan kegelisahan di dalam hati, ia juga dapat menimbulkan masalah sosial dan menyebabkan kehinaan di hari kemudian.

“... Dan, janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada merekal. Dan, tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan, bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. al-Maa'idah: 2).

Konon, pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil Al-Abbasi, terjadilah kekosongan posisi ketua hakim. Dan, khalifah sedang menyiapkan pengganti untuk menempati posisi tersebut. Pada waktu yang terjadilah kasus pencurian. Pelakunya ialah salah satu pemuda yang tinggal di daerah tersebut. Kemudian, pemuda itu dibawa ke hadapan khalifah

Di sebuah tempat pengadilan, sudah ada qoh yang berambisi menempati posisi ketua hakim tersebut. Di sana juga ada Imam Al-Jawwad, alim yang sangat dihormati oleh masyarakat ketika itu. lantaran ambisinya, kemudian si qadhi memberikan pendapatnya kepada khalifah bahwa lelaki itu harus dipotong tangannya. Namun, kemudian timbul perdebatan ketika khalifah bertanya batas tangan yang harus dipotong.

Dengan mengutip al-Qur'an, qadhi tersebut menyarankan agar tangan pemuda itu dipotong hingga sikunya. Ia berusaha bersikap tegas di hadapan khalifah dengan harapan sang khalifah dapat menerima dan mengangkatnya menjadi ketua gadhi saat itu. Namun, ketika khalifah bertanya kepada Imam Al-Jawwad, beliau justru mengatakan bahwa yang dipotong hanyalah pada jari-jarinya saja.

Berbagai alasan dikemukakan oleh Al-Jawwad, baik alasan yang didasarkan pada al-Qur'an, hadits, serta beberapa pendapat ulama lainnya. Sehingga, pendapatnya lebih banyak memperoleh dukungan daripada pendapat gadhi yang berambisi tadi. Merasa keinginannya akan gagal, si qadhi merasa benci dan dendam kepada Imam Al-Jawwad. Bahkan, secara sembunyi-sembunyi, ia menemui khalifah dan menghasut Al-Jawwad dengan berbagai argumen. Bahkan, ia juga meminta raja untuk membunuh Imam Al-Jawwad dengan alasan yang didasarkan pada kebencian dan dendamnya semata."

Kisah tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bagi kita bahwa jika kebencian dan dendam sudah menguasai hati seseorang, maka tidak ada motivasi lain dalam dirinya selain motivasi melakukan keburukan dan kejahatan. Itulah sebabnya hendaknya setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir berusaha menghapus kebencian dan dendam dalam hatinya. Kemudian, mengganti perasaan negatif itu dengan perasaan, positif seperti menyayangi, menjadi pemaaf, dan lain sebagainya.

 

Nak, bila kamu mampu melakukan atau mengikuti beberapa langkah-langkah tersebut, percayalah bahwa setiap kejadian atau musibah yang menimpamu tidak akan pernah menghilangkan kebahagiaan di dalam hatimu.


Marwini, A. 2022. Ketika Kau Tumbuh Nanti, Nak. Yogyakarta : C-Klik Media. 

Komentar