Apa Guna Banyak Baca Buku Kalau Tidak Diamalkan

Cerita ini ditulis dari buku yang berjudul "Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini" oleh Cahyo Satria Wijaya. Sebuah buku dengan banyak sekali pesan-pesan moral yang berguna sebagai pengingat dan motivasi untuk membenahi diri. 


Apa Guna Banyak Baca Buku Kalau Tidak Diamalkan

Banyak tipe pembaca buku. Baik sekadar menikmati, hobi, gaya agar dijuluki kutu buku, atau hanya membaca jika membutuhkan penelitian. Namun, ada juga yang memang 'butuh' akan buku. Apa pun itu, kita tetap perlu mengapresiasi mereka karena bagaimanapun mereka adalah para pembelajar, apa pun tujuannya membaca buku. Terlepas dari sekian banyak tujuan membaca buku, pun sedikit tentu akan mendapat manfaat dari buku tersebut. Apa pun itu yang didapatkan dari membaca buku, apabila bermanfaat haruslah dibagi kepada orang lain. Seperti kata pepatah bahwa ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon tanpa buah. Pohon itu akan gersang dan sedikit sekali manfaatnya.

Dengan berbagi ilmu, selain kita mendapatkan keberkahan ilmu, kita juga akan menjadi manusia yang bermanfaat. Bukankah sebaik- baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Bisa kita bayangkan manusia yang tidak bermanfaat sama sekali bagi kehidupan ini, serupa orang gila yang terus membebani manusia lainnya. Lebih ekstrem lagi seperti mayat hidup.

Ilmu tak akan habis dibagikan. Justru sebaliknya akan terus bertambah karena semakin banyak orang tahu. Dan ini adalah ladang pahala bagi pemilik ilmu. Saat kita tidak mengamalkannya, barangkali ada orang lain yang tersesat atau sengsara karena kita hanya diam saja.

Misalnya kita mengetahui ilmu bengkel dan hafal betul ketika ada mesin motor yang tidak mau menyala. Lalu ketika kita di tengah jalan dan bertemu dengan orang yang motornya mogok, kita hanya diam saja padahal kita tahu dari ciri-cirinya, busi motor itu bermasalah. Ketika diam saja sesungguhnya kita telah membuat orang tersebut sengsara. Apakah karena tidak kenal lalu kita membiarkannya begitu saja, atau khawatir jika tidak diberi upah?

Kenapa harus khawatir ketika menyebarkan ilmu Allah? Apakah kita mendapatkan ilmu itu karena membayar? Setiap keahlian kita pasti akan dibayar oleh Allah dengan berbagai cara dan bahkan lebih! Lalu kenapa kita masih ragu dan membiarkan orang lain sengsara?

Al-Fudhail Bin Iyadh pernah mengatakan bahwa, "Seorang alim tetap dikatakan jahil sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia mengamalkannya maka barulah ia dikatakan seorang alim."

Ungkapan di atas sangatlah dalam. Seseorang yang berilmu tetapi enggan mengamalkannya maka ia adalah seorang yang jahil (bodoh). Tidak ada yang membedakan dirinya dengan orang bodoh, karena sama-sama diam ketika melihat suatu kemungkaran atau kesalahan. Orang yang bodoh sudah jelas ia akan diam saja karena memang tidak tahu, lalu apa bedanya orang yang berilmu itu dengan orang bodoh?

Seseorang yang benar-benar menyadari keilmuannya akan senantiasa berusaha menularkan ilmu-ilmu itu kepada orang lain, baik dengan atau tanpa imbalan. Kebesaran ilmu yang dimilikinya akan melatihnya untuk ikhlas dalam membagikan apa yang ia punya. Semakin tinggi ilmunya semakin mudah ia berbagi.

Berkenaan dengan pembaca buku, ada juga pembaca yang ingin berbagi ilmu tetapi tidak tahu caranya karena ia tidak pandai bicara. Maka menulis adalah cara lain untuk berbagi ilmu. Menulis bisa di mana saja, tidak harus dijadikan buku, melainkan bisa di blog atau di mana saja yang memudahkan orang mengakses. Lalu bagaimana jika pembaca buku itu juga tidak menulis.

Dalam kasus ini kita perlu bertanya, tidak bisa atau tidak mau menulis? Pernah mencoba? Pernah menulis dan membalas pesan di smartphone? Nah, begitulah menulis. Mudah, bukan? Menulis panjang (tidak dalam smartphone) hanyalah perkara kesabaran. Seseorang gagap menulis namun ia tekun melatih diri dengan terus-menerus menulis pastilah bisa. Kita hanya perlu sabar menuliskan setiap kata yang ada di kepala. Jika kita menyerah karena merasa mentok dan tidak bisa meneruskan kalimat selanjutnya, maka di situlah akan mulai tidak sabar.

Kesabaran adalah seni menulis, sama seperti seorang guru yang mesti sabar menularkan ilmunya sementara murid-muridnya begitu bandel. Setelah kesabaran itu kita peroleh barulah ke tahap selanjutnya, yaitu teliti dan jeli. Baik dalam memilih tema, diksi, maupun alurnya. Ketika selesai menulis, sebaiknya kita publish di blog atau di mana saja yang bisa diakses orang. Kalau dengan alasan malu karena tulisan kurang bagus, sesungguhnya kita masih belum mau berbagi dan menyembunyikan pengetahuan kita.

Dengan mempublikasikan tulisan kita, kita akan mendapatkan tanggapan dari pembaca bagaiman tulisan kita. Apakah cukup bagus, inspiratif, atau jelek sama sekali. Nah, di sinilah ujian kita sebagai penulis.


Wijaya, Cahyo Satria. 2017. Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini. Shira Media. Yogyakarta.

Komentar