Cerita ini fiksi. Ditulis oleh Tere
Liye dengan buku berjudul “Berjuta Rasanya”. Cinta Zooplankton menempati posisi
ketiga dari lima belas cerita yang dikemas menjadi satu buku. Blog ini menyalin kembali isi cerita pada buku tersebut.
“Ayu, kamu tuh
pernah nyadar nggak, sih? Sekali saja seumur hidup lu! Please. Topan itu hiu! Ibarat piramida makanan, Topan itu ada di
puncaknya.. Sedangkan lu persis berada di strata terbawah rantai makanan
tersebut." Aku berseru jengkel. Melempar sapu tangan.
"Sudah
berapa banyak coba cewek lain yang di permainkan cinta gombal Topan. Dia emang
ganteng! Pandai sekali bicara. Romantis. Apa yang lu bilang? Dia tipe cowok
yang sempurna. Itu benar. Tapi, aduh, kalau lu mau sedikit berpikir waras,
lihatlah! Semua kehebatan Topan yang lu sebut-sebut mirip banget dengan tabiat playboy kelas internasional! Lu cuma
jadi mangsa iseng nya doang!" Aku menatap setengah prihatin, setengah
sebal, setengah kasihan. Eh, totalnya jadi satu setengah ya? Harusnya sepertiga
prihatin, sepertiga sebal, dan sepertiga kasihan.
Ayu masih
menangis pelan di hadapanku. Sedih nian mendengar ceramahku. Apalagi pas di
bagian aku menyebut-nyebut perangai buruk Topan. Ayu menyeka ujung-ujung
matanya dengan sapu tangan. Tertunduk.
"Coba lu
hitung! Ini untuk berapa kalinya Topan nyakitin lu? Minggu lalu lu harus nunggu
dia dua jam. Dia nggak datang. Dua minggu lalu dia juga bikin lu nunggu dua jam.
Dia nggak datang. Juga minggu-minggu lalu. Apa alasannya? Lupa! Ada keperluan
keluarga. Kakinya bisulan. Inilah! Itulah! Ampun, lu mudah banget menerima
permintaan maafnya. Mudah banget mengangguk menerima penjelasannya. Anak kecil
saja nggak segitunya kalau lagi dibujuk ibunya biar nggak ikut pergi, mereka
pasti protes, pasti merajuk! Lu? Sempurna menerima, lantas terkulai lemah tak
berdaya penuh penghargaan saat Topan lembut mendekap bahu lu! Bah!"
Ceramahku semakin panjang.
Ayu tertunduk
semakin dalam.
"Cukup!
Cukup sampai malam ini saja lu nangis buat dia. Hapus air mata lu. Lu pikir
setelah berkali-kali nyakitin lu, terus balik lagi, nyakitin lu lagi, balik
lagi, dan seterusnya, semua ini akan berakhir baik seperti yang lu bayangkan?
NGGAK! Gue udah bosan lihat lu seperti ini. Lu pikir Topan sekarang lagi sibuk
mikirin lu di saat lu sibuk nangisin dia? NGGAK! Lu lihat sendiri tadi, dia
asyik berduaan dengan cewek lain di kafe town
square! Lu lihat dengan mata-kepala lu sendiri. Itu bukan gosip seperti
yang lu yakini selama ini. Itu nyata! Topan mempermainkan lu. Jadi cukup! Nih,
HP gue, telepon Topan sekarang! Teriak, KITA PUTUS, PENJAHAT!" Aku yang
macam ketel air berdengking tanda kelewat panas di atas kompor, melempar HP ke
Ayu.
Ayu lemah mengambil
HP yang tergeletak di sela-sela bantal. Mengangkat kepalanya. Menatapku. Aku
mengangguk meyakinkannya. "Hidupkan loudspeaker
nya! Gue pengin dengar suara penjahat itu!" Aku mendesis. Menyemangati.
Ayu menggigit
bibir. Setelah sejenak tertunduk lagi, bergetar tangannya menekan nomor telepon
Topan. Aku menyeringai, akhirnya Ayu berani juga!
"Maaf, sisa
pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Harap lakukan isi ulang.
Tut! Tut! Tut!"
Bengong! Ayu menatapku
kosong. Mukaku memerah.
Terlepas dari
urusan sisa pulsa HP-ku, sepanjang minggu ini Ayu tetap tidak berhasil
menghubungi Topan. Tepatnya ia kembali ragu. Kembali berpikir ulang. "Aku
harap dia akan berubalı, Dian...." Berkata pendek, menyela ceramahku di
hari lainnya. "Semua orang pasti berubah, kan?" Berkata pendek lagi.
"Dia pasti akan meneleponku, menjelaskan siapa cewek itu, paling hanya
saudaranya!" Tertunduk.
Dan di antara
banyak dugaan Ayu yang keliru, Ayu memang benar soal Topan pasti akan
meneleponnya. Malam itu, Topan dengan suara khas menyebalkan mengajak bertemu.
Janjian makan malam. "Kita akan makan di tempat pertama kali dulu aku
mengenalmu, Yang!" Dan Ayu langsung terkapar KO mendengar buncah
romantisme tepu-tepu Topan. Sama sekali tidak memedulikan aku yang
menyarankannya menolak ajakan gombal tersebut.
Ayu malah
berseru senang menatapku. "Lihat, kan! Akhirnya Topan akan menjelaskan
banyak hal!" Ya ampun! Ayu persis seperti anak kecil yang ngotot banget
ingin ikut ibunya ke pasar. Hanya dikasih permen, ia sudah terdiam, sementara
ibunya sudah pergi ke pasar.
"Gue harap
lu malam ini sempat bertanya tentang siapa cewek di kafe town-square itu! Gue harap di tengah-tengah lu mabuk akan kalimat
gombal Topan, lu sempat meminta penjelasan-" Aku menatap datar Ayu,
melepasnya di depan pintu kosan. Ayu hanya tersenyum. Entah mendengarkan atau
tidak pesan-pesanku yang jika tidak sengaja dihentikan masih akan terus
berlanjut.
Tapi bagaimana
Ayu akan mengingat pesan itu, sementara makan malam mereka sempurna seperti
kencan hebat mereka sebelumnya. Topan melayani Ayu sebagai Putri Kerajaan.
Mengecup lembut punggung tangan Ayu. Menarik kursi untuk Ayu. Menuangkan
minuman untuk Ayu. Mengiris steak
untuk Ayu. Kemudian dia memandang Ayu seolah dia adalah satu-satunya kekasihnya
di dunia-akhirat ini. Seperti Ayu satu-satunya gadis di dunia ini. Jadi,
bagaimana Ayu akan mengingat semua kebohongan dan sakit hati?
Ayu malam itu
merasa wanita paling beruntung sedunia. Bisa mendapatkan Topan yang ganteng dan
segalanya. Jadi apa pula gunanya bertanya tentang cewek yang dilihatnya bersama
Topan minggu lalu. Hanya merusak kebersamaan mereka yang indah. Kebersamaan
mereka yang menyenangkan.
Hanya saja,
malam itu keadaan tidak berjalan normal seperti biasanya, di tengah
kalimat-kalimat bermajas tinggi Topan, di tengah belaian lembut tangannya,
gadis yang dilihat Ayu minggu lalu bersama Topan menyerbu masuk ke dalam
restoran. Dan gadis itu sangat marah ketika melihat Topan memegang tangan Ayu.
Berteriak tanpa ragu, "DASAR PENJAHAT! KURANG AJAR!!" Gadis itu tidak
seperti Ayu yang mudah mengalah. Gadis itu sangat marah, dan bahkan berani
menampar Topan sebelum pergi. Lengang. Restoran itu menjadi lengang
Wajah-wajah penasaran
tertoleh. Topan memegangi pipinya. Wajahnya memerah, menahan malu. Pelayan
terhenti mengantarkan makanan. Dan Ayu, membeku di kursinya. Semua itu sungguh
benar. Itu bukan gosip. Hei! Ayu bahkan tahu sekali selama ini semua itu
sungguh benar!
"Aku....
Aku memang sering menyakitimu selama ini, Yang.... Aku memang sering
berbohong!" Lemah suara Topan memecah kesunyian. Tertunduk. Hilang sudah
wajah tampan itu, berganti wajah memelas.
"Aku memang
playboy, Yang! Aku memang
penjahat!" Suara Topan semakin tertahan.
Ayu mengelap
ujung-ujung matanya.
Menatap
lamat-lamat Topan yang tertunduk. "Kau tidak tahu betapa menyakitkannya
menjadi playboy. Menjadi penjahat....
Aku dari dulu ingin sekali menghilangkan tabiat buruk itu. Ingin sekali mengenyahkannya,
tapi tidak bisa. Aku sungguh tidak bisa. Itu seperti penyakit, seperti
ketergantungan," Topan mengangkat wajahnya. Lihatlah, wajah itu terlihat
sendu, penuh penyesalan.
"Setiap
kali aku mengkhianatimu, setiap kali tidak menepati janji-janji kita, setiap
kali membuatmu menunggu, aku selalu merasa sakit di hati! Sakiiiit. Aku sungguh
tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa! Tidak bisa, Yang! Seperti malam
ini, aku sakit sekali melihat kau yang menatapku marah, menatapku tidak
percaya. Benar aku memang playboy,
aku memang penjahat, aku memang-" Kalimat Topan terpotong tertinggal di
tenggorokan.
Ayu menatap
lemah wajah Topan.
"Andaikata
ada wanita yang mau menemaniku melalui masa-masa buruk ini Menemaniku
menyembuhkan tabiat buruk ini. Membantukan mengenyahkan penyakit ini....”
Ayu semakin
lemah menatap wajah Topan.
"Andaikata
kau yang amat kucintai mau menemaniku memperbaiki diri, mengubah kelakuan buruk
itu...."
Ya ampun! Tidak!
Ayu sudah buru-buru mengangguk. Menggenggam jemari Topan kencang-kencang.
Tersenyum penuh penghargaan.
Sayangnya, apa
yang aku bilang benar. Apa yang diketahui Ayu selama ini juga benar. Hal buruk
terjadi lagi. Sebulan kemudian setelah percakapan hebat itu, Ayu kembali
menangis. Kali ini Topan tega nian lalai menepati janji malam minggu mereka.
Membuatnya menunggu berjam-jam di depan town-square.
Yang ditunggu malah asyik berjalan berduaan dengan gebetan baru. Aku yang
melihatnya tak sengaja di taman kota melaporkan ke Ayu larut malam.
"Lu tuh
hanya zooplankton, Ayu! Lihat ini, zooplankton dimakan oleh ikan kecil,
ikan kecil dimakan ikan sedang, ikan sedang dimakan ikan besar, dan ikan besar
akhirnya dimakan oleh hiu! Lu persis berada di strata terbawah piramida
makanan!" Aku mendesis, sekali lagi membawa keahlian teknisku sebagai
peneliti di marine-biologist center.
“Dia pasti sudah
berubah…” kata Ayu lemah.
"Berubah
dari Hongkong!" Aku menjawab galak, "Kalau Topan akhirnya kapok dan
benar-benar berubah, gue bersumpah akhirnya akan pacaran dengan cowok!"
Ayu menyeringai,
tahu benar kalau aku sudah bersumpah demikian, berarti aku serius. Ayu tahu
sekali aku seumur-umur hidup membenci cowok. Ah, pertemanan ku dengan Ayu
memang ganjil. Ayu sepanjang umurnya hanya dipermainkan buaya darat, aku
sepanjang usiaku sibuk memasang perangkap lima lapis agar tak satu pun buaya
mendekat. Saking membencinya.
Dulu pertemanan
geng cewek kami berjumlah enam. Empat teman lainnya sudah sejak dua tahun silam
pindah satu per satu. Menikah. Ada yang ikut suaminya. Ada yang pindah karena
urusan pekerjaan. Tinggallah aku dan Ayu berdua dengan masalah masing-masing.
Terus-terang,
malas sekali aku harus menemani Ayu yang kembali menangis, kembali bersedih.
Lantas seminggu kemudian terlihat riang lagi. Bersemangat lagi. Begitu saja
hampir setahun terakhir ini. Naik-turun. Kalau ada istilah cukup satu kali
kehilangan tongkat untuk orang-orang yang membuat kesalahan, maka Ayu sungguh
cewek terbodoh yang pernah ada di dunia. Lah, tongkat yang dihilangkannya sudah
bisa dibuat sepanjang satu kilometer, saking tidak kapok-kapoknya ia
dipermainkan Topan. Bagiku urusan ini amat sederhana, lebih baik sendiri
selamanya dibandingkan sibuk mencoba memahami cowok-cowok menyebalkan itu. Pagar
Di penghujung
tahun, aku mendadak dipindahtugaskan ke Kepulauan Natuna. Pindah. Setelah
hampir enam tahun kebersamaan kami. Empat tahun masa-masa kuliah, ditambah dua
tahun sibuk merintis karir masing masing.
"Gue harap
lu akhirnya realized sesuatu, sebelum
semuanya terlambat, my best friend!"
Aku memeluk erat Ayu di lobby keberangkatan
bandara. Menatap lembut.
"Dia akan
berubah.... Topan pasti berubah!" Ayu berbisik lemah, membalas pelukan.
Aku hanya
tertawa pelan.
"Lu selalu
bisa kontak gue. Lewat telepon, email,
atau apalah. Lu bisa selalu curhat ke gue, meski gue selama ini bete-nya minta
ampun dengar curhat lu yang itu-itu doang!" Aku mencoba bergurau,
tersenyum.
Ayu mengangguk.
Melepas pelukan.
"Gue harap
lu juga menemukan seseorang di sana! Menemukan pasangan hidup." Ayu berkata
pelan.
Aku tertawa
lebih lebar. Nyengir. No way! Bagiku
cowok selalu menyebalkan. Dulu iya, sekarang juga masih. Entah itu di mana
saja. Termasuk di Natuna, ke pulauan terpencil di ujung Nusantara sana. Lebih
baik aku pacaran dengan flora-fauna lautan. Setidaknya penyu hijau jauh lebih
setia dibandingkan Topan dan cowok cowok menyebalkan lainnya!
Pagi itu, untuk
terakhir kalinya aku bertemu dengan Ayu. Juga untuk terakhir kalinya kami
berbincang bincang tentang Topan. Entah kenapa sejak kepindahanku ke Kepulauan
Natuna, Ayu benar-benar tidak lagi membicarakan soal Topan. Enam bulan pertama
kami masih sering berhubungan via email,
tapi Ayu sedikit pun tidak menyinggung tentang Topan. Lepas enam bulan itu,
sempurna kami kehilangan kontak. Entahlah, mungkin Ayu sudah jauh-jauh hari
merelakan kepergian Topan, begitu aku membenak. Jadi Ayu merasa tidak perlu
lagi curhat kepadaku. Keluhan yang seperti kaset tua tak bosan diputar
berulang-ulang.
Mungkin Ayu
akhirnya menyadari cinta zooplankton nya
terlalu suci buat hiu yang galak dan ganas. Tahukah kalian? Meski zooplankton itu tergolong hewan, mereka
tidak pernah memangsa makhluk hidup lainnya. Merekalah satu-satunya hewan di
dunia yang tidak membunuh makhluk lain untuk urusan isi perut, bahkan rumput
laut pun tidak. Zooplankton sempurna
makan dari hasil fotosintesis matahari. Kemudian memasrahkan diri dimakan oleh
ikan-ikan kecil. Zooplankton selalu
setia sampai kapan pun menjadi rantai terbawa dalam piramida makanan.
Tetapi dalam
urusan cinta ini, tidak seharusnya Ayu menjadi zooplankton-nya Topan. Teman dekatku itu terlalu baik untuk Topan,
sang hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu menerima apa adanya. Ayu
sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia miliki cukup untuk
memperbaiki banyak hal, mengubah banyak tabiat buruk. Padahal, cinta zooplankton Ayu sama sekali tidak cukup
untuk Topan, sang penguasa rantai makanan.
Tanpa terasa,
dua tahun yang sempurna telah berlalu.
Pesawat yang
membawaku kembali dari Kepulauan Natuna mendarat mulus di bandara ibukota.
Setelah terbenam lama dengan seluruh penelitian di dasar lautan, aku dapat
jatah cuti sebulan. Minggu lalu, aku juga akhirnya berhasil menghubungi Ayu.
Kangen.
"Sibuk,
Dian! Gue lagi sibuk banget belakangan. Tapi gue pasti menyempatkan diri
menjemput lu! Pasti! Meski itu hal terakhir yang harus gue lakukan di dunia
ini." Ayu bergurau di ujung pesawat telepon sana.
Kedengarannya sangat
ceria.
Aku ikut
tersenyum, sambil memandang sunset di
atas marine-biologist center
Kepulauan Natuna yang persis berada di tengah-tengah lautan. Ah, kalau
mendengar intonasi suara Ayu, itu pertanda setidaknya teman terbaikku sedang
bahagia. Mungkin Ayu sedang bahagia dengan kesibukan barunya. Aku urung
bertanya apa kesibukan barunya sekarang. Hanya bilang jadwal kedatanganku.
Kemudian menutup pembicaraan. Lihat lah, matahari perlahan tenggelam di kaki
cakrawala. Membuat gumpalan awan putih terlihat memerah.
Indah. Memesona.
Tentang Topan,
sang playboy yang singgah dalam kehidupannya
pasti sudah lama tertinggal. Sudah selesai. Mungkin akhirnya Ayu menyadari, tak
ada gunanya ia bersikukuh.
Tidak akan
pernah Topan berubah. Kalau itu terjadi, berarti dunia sudah terbolak-balik.
Itu berarti aku juga harus segera menarik kesimpulanku tentang lelaki selama
ini. Menebus sumpah untuk pacaran. Pacaran? Aku mendengus. Itu tidak akan
pernah terjadi. Mengusap wajah. Tersenyum getir. Permukaan air laut yang
menjingga, memantulkan siluet indah ke seluruh bangunan modern pusat-penelitian
kelautan.
Benar-benar
pemandangan yang bagus.
Tetapi itu
hanyalah pemandangan yang hebat yang kulihat seminggu lalu, saat aku menelepon
Ayu mengabarkan kepulangan. Pagi ini, aku yang berdiri persis di lobi
kedatangan bandara benar-benar melihat pemandangan yang jauh lebih hebat.
Ya Tuhan! Apa
artinya?
Lihatlah, Ayu tengah
repot menggendong bayi berumur satu tahun. Juga Topan. Ya ampun! Topan? Aku
mendesis tidak percaya. Apa tidak salah lihat. Mengusap mata. Benar! Topan
sedang menggendong salah satu bayi kembar mereka.
"Selamat
datang, sahabatku!" Ayu memanggilku nyambut.
Tersenyum sangat
ceria. Ucapnya dengan sangat riang. Lihatlah wajah Ayu yang bersinar bahagia.
Topan? Topan juga tersenyum sangat ceria, tak kalah ramahnya.
"Sorry, dulu nggak sempat ngabarin
nikahnya. Gimana mau sempat, gue kehilangan seluruh nomor kontak lu setelah
pindah kosan baru. Bete tinggal di kosan lama setelah lu pindah ke Natuna.
Sepi! Jadi gue pindah.. Ah ya, ini anak kembar gue. Yang ini namanya, eh,
namanya Dian. Gue sama Topan sepakat pakai nama lu, nggak pa-pa, kan? Yang satu
namanya Dina." Buncah Ayu menjelaskan banyak hal.
Sementara aku
menatap ekspresi keluarga kecil mereka dengan tatapan kosong. Tidak percaya.
Mereka menikah?
"Ayo Dian,
cayang, itu Tante Dian! Teman terbaik Mama. Aduh, akhirnya lu menghubungi gue.
Gue sudah lama banget nyari kontak ke pusat penelitian itu. Kangen banget!
Ah-ya, gue sibuk belakangan. Sibuk ngurusin anak-anak. Lu terlihat semakin
cantik, semakin ramping. Sudah punya pacar, belum?"
Ayu dan Topan
tertawa bareng.
Ya Tuhan! Aku
membeku, sama sekali tidak mendengar pertanyaan bergurau Ayu barusan. Mereka
sudah menikah? Mereka malah sudah punya dua anak kembar yang ampun sungguh
menggemaskan. Aku gemetar ingin menggendong Dian. Anak kecil itu menggeliat
dalam pelukan Ayu, tersenyum lebar ke arahku. Aduh, lutuna!
"Kalian....
Kalian menikah?" Hanya itu sepotong kalimat yang keluar dari mulutku lima
menit kemudian. "Tentu saja! Lah, ini anak siapa lagi?" Ayu tertawa.
Menyerahkan Dian
ke tanganku yang terjulur.
"Maksudku....
Maksudku.... Bukankah Topan...."
Aku ragu-ragu
melirik Topan. Dian dalam pelukanku jahil menarik syal. Menyeringai
menggemaskan.
"Topan
sudah berubah!" Ayu tersenyum.
"Bagaimana
mungkin?" Aku bahkan tidak menyadari kalau seruanku barusan sama sekali
tidak sopan.
"Aku
keliru." Topan yang menjawab, tersenyum lebar kepadaku, "Aku
benar-benar menyia-nyiakan cinta Ayu selama ini. Kau tahu, saat aku akhirnya
menyadari betapa besar cintanya, saat itu aku merasa malu sekali."
Maka
berceritalah Topan. Sebulan setelah kepergianku, terjadilah pertengkaran
mereka. Pertengkaran yang hebat. Sekali ini Ayu benar-benar tersakiti oleh
tabiat Topan. Tega Topan berteriak kalau Ayu hanya "pacar transisi"
baginya. Hanya singgah sebentar sebelum mendapatkan cewek lainnya. Transit.
Tidak lebih. Tidak kurang. Benar-benar pembicaraan yang menyakitkan. Ayu
tersungkur. Kesedihan mendalam. Bahkan, hampir memutuskan untuk pergi melupakan
Topan.
Tiga bulan
berlalu, entah apa pasalnya, Topan sang playboy
kelas internasional tertimpa musibah berkali-kali. Mungkin karma dari
kelakuannya. Topan jatuh sakit berkepanjangan. Sakit yang serius, bahkan nyaris
membunuhnya. Tubuh Topan berubah kurus kering menyedihkan, wajahnya yang tampan
tinggal muka tirus kehilangan cahaya. Dan itu belum cukup, Topan juga
kehilangan pekerjaan, kehilangan seluruh materi mengobati sakitnya. Enam bulan
terbaring lemah di rumah sakit, tidak ada satu pun dari gadis-gadis itu yang
mengunjungi nya. Hanya Ayu. Ayu yang akhirnya tetap yakin, suatu saat hiu-nya
pasti berubah. Ayu yang tetap yakin, cinta yang dimilikinya lebih dari cukup
untuk mengubah tabiat Topan. Siang-malam Ayu merawat Topan dengan telaten.
Merawat dengan penuh kasih sayang. Merawat tanpa mengharapkan pamrih apa pun.
"Malam itu,
hampir pukul 02.00, aku terbangun. Dengan napas sesak, dengan tubuh sakit.
Sudah lebih tiga bulan aku terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kau tahu,
malam itu aku bagai melihat seorang bidadari. Sungguh! Bagai melihat malaikat
cantik yang dikirimkan Tuhan kepadaku!" Topan meneruskan cerita sambil
menyeka ujung matanya, memeluk mesra Ayu yang berdiri di sebelah.
"Malaikat
cinta itu adalah Ayu yang tertidur.... Ayu yang tertidur di sisiku. Kepalanya
ada di atas ranjang. Duduk di kursi plastik. Tangannya menggenggam tanganku. Ya
Tuhan, malam itu aku malu sekali melihat wajah Ayu yang bercahaya oleh cinta.
Bercahaya oleh kesabaran. Menungguiku siang-malam tanpa lelah. Ya Tuhan, aku malu
sekali!" Topan sekarang benar-benar menyeka ujung matanya. Terharu
mengenang kejadian tersebut.
"Sudahlah,
tidak usah dibicarakan lagi, Yang!" Ayu mendekap mesra, berusaha mengambil
bayi kembar dari gendongan Topan yang sekarang terlihat amat repot.
Gimana nggak?
Topan sibuk mengendalikan harunya sambil menggendong bayi mereka.
"Sejak
malam itu aku baru menyadari betapa keliru aku menterjemahkan cinta polos Ayu,
cinta tanpa berharap darinya." Topan berkata dengan suara tertahan.
Menatap lembut wajah Ayu. Begitu menghargai.
Entahlah! Aku
sudah tidak mendengarkan lagi ujung kalimat Topan. Otakku mendadak dipenuhi
berbagai hal. Ya ampun! Lihatlah mereka! Ternyata aku juga keliru selama ini.
Tentu saja semua orang bisa berubah. Tentu saja cinta yang besar bisa menjadi
energi untuk membuat perubahan tersebut. Sumpah itu? Apakah aku akan menarik
pemahamanku selama ini? Aku mendesis pelan dalam hati.
Lihatlah, jika
demikian adanya, maka hanya aku di antara teman-teman geng cewek kami dulu yang
belum menikah. Hanya tersisa aku. Sendiri.
"Mari Zooplankton kecilku, nggak mungkin kita
membuat Dian berdiri lama di sini setelah perjalanan panjangnya, kan!"
Topan mendekap mesra istrinya.
Membantu
mendorong trolley-ku. Aku bengong.
Hei? Apa barusan?
"Ah-ya, lu
belum tahu, Topan sekarang memanggil gue dengan Zooplankton kecil. Dan gue memanggilnya dengan sebutan Hiu
besar!" Ayu yang menjelaskan. Tertawa renyah.
Bah! Aku
benar-benar terperangah!
Lantas aku apa? Cillean Filleta? Makhluk yang tidak memerlukan pasangan untuk bereproduksi selama hidupnya? Makhluk yang usianya? Hiks!
Referensi :
Liye, T. 2012.
Berjuta Rasanya. Jakarta : Mahaka Publishing.

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
Teman disaat ngisi waktu kosong sambil ditemani teh hangat dan camilan. So interesting. Tetap lanjutkan ya, ditunggu selanjutnya ❤️
BalasHapusTerima kasih atas antusiasnya,
HapusMaaf ya akhir-akhir ini penulis sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan studi, insyaallah setelah ini menjadi lebih sering update ;)