Loading Jodoh


Tulisan ini merupakan rangkuman dari buku yang berjudul “Loading Jodoh : Panduan Menjadi Jomblo Bermartabat Sampai Jodoh Mendekat” yang ditulis oleh Tristanti Sri Wahyuni.

 

Bagian 1 :

Being Single is Better than Being in the Wrong Relationship


Anuptaphobia

Apa kamu pernah merasa gelisah saat menjadi jomblo? Merasa menjadi lajang itu menakutkan? Buru-buru cari pasangan karena takut sendirian? Kalo kamu mulai merasakan hal-hal semacam ini, sebaiknya kamu mulai waspada. Bisa jadi, kamu mengidap Anuptaphobia. Apa itu Anuptaphobia? Secara sederhana, Anuptaphobia adalah fobia menjadi jomblo. Loh, Ada ya? Ada, dong. Selain Anuptaphobia, ada lagi beberapa fobia unik yang berkaitan dengan urusan asmara yaitu sebagai berikut:

  • Philophobia. Ketakutan yang berlebihan untuk dicintai. Biasanya orang-orang ini takut merasakan jatuh cinta atau dicintai. Orang-orang ini umumnya pernah mengalami pengalaman buruk dalam percintaan di masa lalunya yang berujung pada trauma sehingga memicu dia menjadi Philophobia.
  • Anuptaphobia. Seperti telah disinggung sebelumnya, Anuptaphobia adalah ketakutan berlebihan untuk menjadi lajang. Penyebabnya hampir sama dengan Philophobia, adanya pengalaman percintaan yang buruk di masa lalu sehingga membuat seseorang menjadi insecure bila tidak memiliki pasangan.
  • Gamaphobia. Ketakutan berlebihan terhadap pernikahan atau komitmen jangka panjang. Penderita fobia ini akan dihantui oleh perasaan takut akan resiko pernikahan seperti gagal mendidik anak, salah memahami pasangan, permasalahan finansial, dan sebagainya. Untuk kasus yang cukup parah, penderita Gamaphobia dapat memutuskan untuk melajang seumur hidupnya.
  • Androphobia. Ketakutan berlebihan terhadap pria. Gejalanya seperti merasa waswas berlebihan ketika didekati pria, merasa tidak nyaman dan menghindari kontak langsung dengan pria seperti mengobrol atau diantar pulang.
  • Pilemaphobia. Ketakutan terhadap ciuman. Penderita Pilemaphobia merasa takut berlebihan apabila ada yang ingin menciumnya walaupun yang menciumnya adalah pasangannya sendiri.
  • Chiraptophobia. Ketakutan berlebihan terhadap sentuhan fisik. Beberapa kasus yang cukup parah, penderitanya bisa takut berlebihan hanya sekedar nonton adegan film yang menampilkan banyak kontak fisik.
  • Zhelophobia. Ketakutan berlebihan terhadap perasaan cemburu. Penderitanya merasa sangat waswas saat merasa cemburu.
  • Metrophobia. Ketakutan terhadap puisi atau kata-kata puitis. Penderita fobia ini merasa muak terhadap kata-kata puitis.

Barangkali kita merasa tidak habis pikir dengan beberapa fobia yang terlihat aneh dan konyol tersebut. Bagi orang normal, boleh jadi akan susah mengerti alasan takut terhadap suatu benda, situasi ataupun fenomena. Namun, perlu diingat bahwa fobia adalah salah satu gangguan kejiwaan berupa ketakutan berlebihan yang susah dikendalikan dan bagi para penderitanya ketakutan itu sangat mengganggu.

Back to Topic, buku ini memfokuskan pembahasan mengenai Anuptaphobia. Adapun ciri seseorang yang mengalami fobia tersebut yaitu merasa takut terhadap perasaan sepi dan kesendirian; memiliki pemikiran bahwa menjalani status lajang adalah hal yang menyedihkan; memilih mempertahankan hubungan walaupun tidak sehat daripada menjalani hidup dengan status lajang.

Bagaimana cara mengatasinya?

Satu-satunya cara mengatasi Anuptaphobia adalah jangan terlalu mengejar sebuah status “In Relationship” dengan orang lain tanpa sebelumnya “Menjalin Cinta” dengan diri sendiri terlebih dahulu. Ubah konsep diri, hapus segala pemikiran negatif, sibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif sebagai aktualisasi diri, meningkatkan nilai diri dan puas terhadap diri sendiri terlebih dahulu. Berhenti ‘kepo’ dengan hal-hal yang membuat diri sendiri gelisah. Terakhir, bila perasaan takut lajang ini sampai mengganggu aktivitas keseharian, ada baiknya menemui psikiater atau psikolog. Jangan takut di cap gila, mental health maintenance perlu dilakukan demi mencegah gangguan mental.

Lebih Baik Sendiri daripada Makan Hati

Memiliki pasangan memang asyik. Jadi, ada seseorang yang selalu berada di sisi kita, memberi perhatian, menemani ke mana pun, menjadi tempat curhat, bisa diajak kondangan, jalan-jalan, dan sebagainya. Tapi, bagaimana jika hubungan yang dijalani terasa sangat memuakkan, mengekang, melelahkan? Hubungan yang tidak sehat. Tentu saja, sendiri lebih baik daripada terjebak dalam hubungan toxic, bikin makan hati. Lalu, bagaimana cara mengetahui hubungan yang sedang dijalani bersifat toxic atau tidak? Berikut beberapa tanda yang perlu kamu ketahui.

  1. Cinta yang terlalu membuatmu mabuk kepayang. Perasaanmu begitu membara, terikat, jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sehingga kamu melupakan akal dan logika. Selalu kepikiran si Dia sampai-sampai susah tidur dan lupa makan. Hari-hari mu tentang Dia, mudah cemburu dan berprasangka, uring-uringan karena rindu, dll. Kamu cenderung mencintai tanpa logika.
  2. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Cinta yang sedang-sedang saja. Cinta yang membara dan memabukkan itu harus mati, diganti dengan cinta yang memberi rasa tenteram, aman, dan companionship.
  3. Playing victim. Ketika terjadi konflik dan pertengkaran, kamu selalu menjadi pihak yang disalahkan dan meminta maaf. Padahal tidak jarang dia yang menyebabkan konflik itu terjadi. Namun, ia selalu playing victim.
  4. Bukan pendengar yang baik. Ketika kamu ingin curhat kepadanya, ia hanya menanggapi seadanya. Atau dia justru sibuk dengan smartphone, tidak terlalu minat untuk menyimak ceritamu.
  5. Cemburu berlebihan. Cemburu tanda cinta asal dalam batas wajar. Cemburu yang berlebihan tidak baik karena itu adalah bentuk keposesifan kamu terhadap pasangan.
  6. Tidak mendukung kamu untuk maju. Dia seperti merasa kurang suka dengan pencapaianmu. Dia merasa tersaingi dan insecure dengan kemajuan yang kamu raih.
  7. Kurang komunikasi. Hubungan tanpa adanya komunikasi yang baik means nothing. Tidak ada masa depan untuk hubungan kalian.
  8. Tidak ingin lebih dekat dengan keluarga dan teman. Ia belum pernah memperkenalkan kamu kepada keluarga dan teman-temannya, pun dia juga kurang berkenan apabila kamu mengajaknya berkenalan dengan keluarga dan teman-temanmu. Dia selalu mengelak dari membicarakan ini dengan alasan belum tepat, terlalu dini atau belum siap. Jika memang belum siap, dukung dan bantu dia hingga siap. Jika dia tetap saja mengelak itu berarti dia tidak serius denganmu dan kamu hanya membuang-buang waktu.
  9. Kamu tidak bisa menjadi diri sendiri. Ia sering mengkritisi penampilanmu, meremehkan hobimu, melarang kamu mengikuti kegiatan yang kamu sukai, dan sebagainya. Well, sebaiknya tidak perlu diteruskan daripada kamu terus-terusan memaksakan diri menjadi seseorang yang bukan kamu.
  10. Memanfaatkanmu dengan alasan berjuang bersama. Sebagai pasangan memang perlu untuk saling mendukung satu sama lain. Namun, perlu diingat, bentuk dukungan itu bersifat dua arah. Kalo hanya kamu yang sering berkorban untuknya, itu bukan saling mendukung melainkan kamu hanya dimanfaatkan olehnya. Berjuang bersama itu berarti berjuang untuk kepentingan bersama. Bukan kamu yang selalu berjuang untuk kepentingannya.

Setelah membaca beberapa uraian diatas, apakah kamu sedang menjalani salah satu atau beberapa diantaranya? Jika iya, kamu harus berhati-hati. Bisa jadi kamu terjebak pada toxic relationship. Segera bicarakan masalah ini dengan pasanganmu agar hubungan kalian dapat diperbaiki menjadi hubungan yang lebih sehat. Namun, jika sudah tidak bisa diperbaiki lagi, jangan buang-buang waktumu. Lebih baik sendiri daripada makan hati, bukan?

Mengapa Jadi Jomblo itu Lebih Asyik?

Menjadi lajang dan mencintai dirimu sendiri adalahh sebuah relationship paling luar biasa yang pernah ada. Sebagai lajang, kamu akan belajar, menilai, serta menemukan hal-hal yang dapat menjadi penghargaan kepada dirimu sendiri. Hal-hal seperti itu memberikan manfaat yang sangat signifikan bagi perkembangan pribadimu sebagai individu. Boleh jadi, kamu tampak egois pada mulanya. Namun, seiring waktu, kamu akan menyadari bahwa hal itu akan sangat bermanfaat bagi status relationship-mu dengan Mr. Right. Lebih baik melajang daripada menjalani sebuah toxic relationship, sebab:

  1. Kamu tidak akan berkubang dalam penyesalan.
  2. Kamu berhak bahagia.
  3. Hidup ini sangat singkat, jangan habiskan waktumu untuk hal-hal yang tidak membuatmu maju.
  4. Kamu tidak perlu menjadi bodoh untuk mencintai seseorang.
  5. Kamu tidak akan merasa hancur karena cinta.
  6. Kamu tidak perlu mengorbankan diri sendiri.
  7. Kamu bisa merasakan kebebasan. 


“Being single means you are strong enough to wait for what you deserve”

Niall Horan 

#KUIS

Kira-Kira Doi Beneran Suka Sama Kamu Nggak, ya?

    Mungkin sebagian dari kita sering dibuat bingung dengan sebuah hubungan yang sedang dijalani. Sudah lama dekat, tapi belum ada pernyataan resmi tentang hubungan kalian. Lalu, kamu bingung mau menempatkan diri sebagai teman biasa atau lebih. Atau, bisa jadi kamu suka dengan seseorang, tapi nggak yakin apakah ia punya perasaan yang sama kepadamu atau tidak. Nah, dengan kuis ini, kamu bisa mendapat sedikit gambaran perasaannya kepadamu. Perlu diingat, kuis ini sifatnya hanya fun belaka jadi jangan dijadikan patokan 100% yaa..

          


Yuk, hitung poinmu!

1.      A(30), B(20), C(40), D(10)

2.      A(40), B(30), C(20), D(10)

3.      A(10), B(20), C(40), D(30)

4.      A(30), B(10), C(20), D(40)

5.      A(10), B(20), C(30), D(40)

6.      A(20), B(30), C(40), D(10)

7.      A(30), B(20), C(40), D(10)

8.      A(30), B(10), C(40), D(20)

 


Bagian 2 :

Sudah Menjomblo Selama Satu Putaran Gerhana, tapi Tuhan Masih Menyembunyikan Jodoh Saya. Tanya Kenapa?

    Pernahkah kamu merasa sudah berada di usia yang cukup matang, tetapi tidak juga memiliki pasangan? Padahal, sudah sekian lama kamu mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menjadi sosok yang memiliki kualitas baik. Kamu sudah mencoba menjadi pribadi yang positif, banyak belajar, menambah wawasan, memperbaiki penampilan, dan lain sebagainya. Namun, entah kenapa jodoh idaman tidak kunjung kamu dapatkan.

    Dilansir dari CBS News, Amir Levine, psikiater asal New York yang sekaligus penulis buku Attached : The New Science of Adult Attachment, mengemukakan beberapa alasan yang mendasari seseorang tetap melajang. Berikut ini beberapa diantaranya:

  1. Terlalu sulit untuk dijangkau. Terlalu jual mahal dan selalu menarik diri dari seseorang yang sebenarnya kamu sukai justru menimbulkan kesan bahwa kamu tidak nyaman didekati olehnya. Maka, jangan heran apabila ia menyerah dan pergi menjauh darimu untuk mendekati orang lain.
  2. Terjebak kenangan dan susah move on dari masa lalu. Belum move on akan membuatmu susah membuka hati dengan orang baru, kamu sering membanding-bandingkan ia dengan masa lalumu dan mengidealkan masa lalu membuatmu sulit menemukan pasangan baru. Ingatlah, setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahannya sendiri.
  3. Kriteria yang terlalu tinggi. Kamu bertekad menemukan orang yang sesuai kriteria idealmu dan mematok standar yang demikian tinggi seperti harus pintar, humoris, mapan, dll. Kamu bisa saja menemukan sosok dengan kriteria seperti itu, tetapi membutuhkan waktu lama. Dan, perlu diingat, meskipun kamu sudah menemukannya, belum tentu ia akan menjadi pasanganmu sebab bisa jadi dia memiliki kriteria ideal tersendiri dan kriteria itu nggak ada dalam diri kamu.
  4. Takut bergantung kepada pasangan. Sebagian orang memiliki perasaan takut atau gengsi untuk bergantung kepada pasangannya. Lantas, mereka berusaha mempertahankan kemandirian dan independensinya. Akibatnya, hubungan mereka berjalan kaku. Tidak ada rasa membutuhkan satu sama lain. Akhirnya, hubungan pun berakhir.
  5. Terjebak gender stereotip dalam masyarakat. Di dalam masyarakat dengan sistem budaya patriarki, berlaku sebuah konsep yang menentukan hal yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh pria maupun wanita. Dalam masalah hubungan, ketika wanita tertarik kepada pria, stereotip masyarakat mengharuskan mereka untuk menyimpan perasaan tersebut dan menunggu pria yang menyatakan perasaan duluan. Wanita di cap terlalu murahan apabila menunjukkan perasaannya lebih dahulu kepada pria. Sedangkan, pria dianggap lemah apabila tidak berani maju untuk menyatakan perasaannya. Adanya konsep seperti ini bisa menghambat seseorang untuk mendapatkan pasangan. Baik pria maupun wanita, tidak masalah siapa pun yang lebih dahulu menyatakan perasaannya.
  6. Kasih sayang orang tua yang berlebihan. Adapun seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan orang tua yang over protective boleh jadi orang tersebut akan tumbuh menjadi seseorang yang selalu merasa insecure, takut penolakan, dan selalu menghindari hubungan. Hal ini menjadi salah satu alasan bertahan melajang dalam waktu lama.
  7. Trauma yang mendalam di masa lalu. Pengalaman traumatis dapat mensugesti seseorang takut memulai hubungan baru dan terus dihantui oleh rasa sakit di masa lalu yang senantiasa membuatnya ragu untuk maju.
  8. Terlalu pintar dan sensitif. Peneliti dari Brooking Institution, Carol Graham, menyatakan bahwa seseorang yang pintar cenderung lebih menyukai kesendirian. Mereka tidak terlalu suka keramaian, meskipun sekedar kumpul bersama teman sendiri. Orang-orang pintar sangat menyukai ketenangan sehingga mereka lebih senang menyendiri daripada berkumpul dan ngobrol-ngobrol. Dengan kepintaran itulah, mereka lebih sering berpikir dua kali untuk menjalin hubungan. Hal ini membuat seseorang bertahan menjomblo dalam waktu lama.

 

Gen Jomblo Menahun dalam Dirimu

Selain alasan-alasan diatas, penyebab lainnya mengapa seseorang menjomblo walau sudah jatuh tempo adalah karena adanya gen jomblo dalam dirinya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan asal Beijing, Tiongkok, menyatakan bahwa kejombloan seseorang dapat dipengaruhi oleh gen. Gen tersebut bernama singleton gene alias gen single. Gen ini disebut-sebut sebagai penyebab seseorang sulit mendapatkan pasangan. Ketika sudah memulai suatu hubungan pun, berakhir di tengah jalan. Gen ini bekerja dengan cara memengaruhi jumlah produksi hormon serotonin dalam tubuh seseorang sehingga kadarnya menurun. Menurunnya hormon serotonin dalam tubuh, maka menurun pula kualitas kebahagiaan seseorang. Sehingga mereka yang memiliki gen singleton lebih dari 20% cenderung sulit menjalin hubungan karena tidak terlalu bahagia dalam hubungan tersebut hingga berujung putus-nyambung.

Gen singleton atau Gen 5-HTA1 ‘G’ bukan tidak bisa ditanggulangi. Cara mengendalikannya ada di dalam diri sendiri. Kita bisa mengontrol reaksi tubuh kita agar tidak terpengaruh oleh “keusilan” dari gen jomblo tersebut.

 

Jangan Menyabotase Diri Sendiri

Walau jodoh ada di tangan Tuhan, terkadang tanpa disadari, justru sikap kita sendirilah yang membuat seret jodoh. Bisa jadi, sebagian dari kita ada yang memiliki ketakutan terhadap komitmen, sehingga sulit menemukan jodoh impian. Jika memang hal seperti ini terjadi, maka artinya kita telah menyabotase diri sendiri. Dilansir dari hellosehat.com, berikut beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk introspeksi diri.

  • Putar kembali ingatan di masa lalumu. Tengoklah kembali ke belakang. Putar kembali ingatan di masa lalu ketika kamu masih memiliki pasangan. Lalu, jawab beberapa pertanyaan berikut ini dengan sejujur-jujurnya.
    • Berapa jumlah mantan kekasihmu di masa lalu dan berapa lama hubungan kalian berlangsung?
    • Apa yang biasanya menjadi penyebab kalian putus?
    • Apa hal paling membahagiakan yang pernah kamu alami selama berada dalam sebuah hubungan? 
Jawaban yang kamu berikat atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjadi gambaran hubunganmu di masa lalu. Kamu bisa menyimpulkan tipe orang yang telah sempat menjalin hubungan denganmu. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa boleh jadi kamu memang belum menemukan sosok idaman dari semua hubunganmu di masa lalu. Dengan berusaha menilai berjalannya hubunganmu di masa lalu, kamu dapat mulai menemukan jawaban alasanmu masih bertahan menjomblo hingga lama. Dan kamu bisa memperbaiki diri.
  • Bagaimana sikapmu selama ini? Coba introspeksi diri ketika menjalin hubungan di masa lalu. Ingat-ingat juga, berbagai hal yang dulu sering dikeluhkan oleh mantan atas sikapmu. Apakah dulu kamu sangat egois, posesif, terlalu mengekang, cemburu berlebihan, terlalu banyak drama, tidak mendengarkan pasangan? Atau, boleh jadi kamu tidak setia? Jika sulit menilai dirimu sendiri, kamu bisa meminta pendapat sahabat-sahabatmu. Jika jawabannya sama seperti yang sering dikeluhkan pasanganmu, maka itulah permasalahannya. Penyebab kejombloanmu semua ada pada dirimu.
  • Kira-kira, kamu sudah siap belum menjalin hubungan dengan orang lain? Coba renungkan, apakah kamu betul-betul siap menjalin hubungan dengan orang lain? Sudahkah kamu merasa nyaman terhadap diri sendiri, sudahkah kamu mencintai dirimu sendiri?
  • Pikirkan masa depanmu. Kamu harus mulai memikirkan masa depan. Tidak ada yang salah dengan menjadi jomblo. Menjadi jomblo justru memiliki kesempatan yang lebih banyak dan peluang yang lebih besar untuk mengejar impian dan cita-cita. Fokuslah memperbaiki diri dan perluas pergaulan. Dengan kualitas diri yang lebih baik dan pergaulan yang lebih luas, peluang mendapat jodoh impian lebih besar.

“Being single isn’t a time to be looking for love. Used that time to work on yourself and grow as an individual”

#KUIS

Kenapa Aku Masih Jomblo?

Di bagian sebelumnya, sudah diulas mengenai penyebab seseorang terjebak ke dalam kejombloan. Nah, melalui kuis ini, kita juga bisa menemukan alasan kita masih jomblo. Tapi, kuis ini sifatnya fun aja, ya. Let’s have fun !



Bagian 3 :

Loading Jodoh : Yuk, Memantaskan Diri

 

Menikah? Benar Sudah Siap atau Cuma Kepengin?

Kehidupan pernikahan bukan semata-mata masalah cinta-cintaan dan bahagia saja. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi serta tanggung jawab yang harus dipikul. Sebelum sibuk baper dan galau di media social, mari introspeksi diri dulu. Apakah sudah siap untuk menikah ataukah cuma kebelet nikah doing? Berikut ini beberapa poin yang bisa dijadikan acuan.

  1. Apakah kamu sudah dewasa secara emosional?
  2. Apakah kamu sudah siap berkompromi dengan pasangan dalam banyak hal?
  3. Apakah kondisi finansialmu sudah stabil?
  4. Apakah kamu sudah sanggup menerima kekurangan pasangan?
  5. Apakah kamu dapat berdamai dengan perbedaan selera masing-masing?

Nah, dari beberapa poin tersebut, kamu bisa menilai dirimu sendiri. Daripada sibuk menggalau, lebih baik sibuk memperbaiki diri agar benar-benar siap menikah.

“Kata pernikahan adalah sesuatu yang jauh lebih serius daripada tweet-tweet generasi kesepian yang mupeng sekali untuk dikasihi, dicintai dan dimiliki. Perlakukan kata nikah dengan serius dan dengan mengingat konsekuensi seumur hidup, bukan dengan sepele, seperti ‘pengin nikah, tapi nggak tau sama siapa. Cariin, dong’. Tidak ada yang peduli anda putus berapa kali, tapi sekali saja anda bercerai maka semua orang peduli.”

Wing Aureus

Apa Pun yang Bisa Dilakukan Sambil Menunggu Jodoh

Daripada galau melulu, lebih baik melakukan hal-hal yang bisa menambah kualitasmu. Nah, berikut ini berbagai hal yang bisa dilakukan sambil menunggu jodoh.

  • Menyenangkan diri sendiri.Tidak perlu sakit hati, menikah bukan seperti lomba lari. Lebih baik menikmati kesendirian dengan melakukan hal-hal yang kamu sukai. Cobalah kembali hobimu, baca buku, jalan-jalan, nonton film, olahraga dan sebagainya.
  • Bahagiakan kedua orang tuamu. Selagi masih lajang dan belum sibuk dengan keluarga sendiri, ada baiknya kamu melakukan hal-hal yang dapat menyenangkan hati orang tua. Seperti membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, mengajak ayah ibu makan diluar setelah kamu gajian, atau membelikan barang-barang yang mereka butuhkan.
  • Belajar banyak hal baru. Belajar hal-hal baru yang belum pernah kamu coba sebelumnya seperti memasak, menjahit, dan sebagainya.
  • Belajar handle anak. Saat ini mungkin kamu sudah mulai menyukai anak-anak. Namun, itu tidaklah cukup. Setelah menikah dan menjadi orang tua, kamu memiliki tugass yang cukup besar. Kamu harus bisa menjaga, merawat dan mendidik anak-anak kalian. Kamu bisa mempelajarinya dari literatur dan praktik langsung dalam mengasuh adik atau keponakanmu.
  • Fokus dengan karir dan pendidikan. Fokus dengan yang sedang kamu jalani saat ini baik itu pendidikan, karir maupun keduanya.
  • Perbanyak pertemanan. Bukalah pergaulan seluas-luasnya. Pergaulan yang baik tentunya. Banyak bergaul, banyak berteman, banyak pengalaman. Siapa tahu, salah satu diantara kawan-kawanmu itu, kelak akan menjadi jodohmu. Coba aktifkan radarmu kuat-kuat.
  • Piknik sepuasnya. Pergilah mengunjungi tempat-tempat indah atau belajar sejarah di museum dan candi-candi. Siapa tahu Tuhan mempertemukan kamu dengan jodohmu dalam sebuah perjalanan.
  • Rajin berdoa dan beribadah kepada-Nya. Hal yang paling utama adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada-Nya, sang penggenggam hati manusia. Tuhan yang menjaga jodoh kita. Buatlah proposal permohonan kepada-Nya, lalu ajukan dengan doa. Mintalah dengan sungguh-sungguh sambil terus berusaha memperbaiki diri. Suatu saat nanti, Tuhan pasti akan mempertemukanmu dengan jodoh melalui cara yang bisa jadi tidak kamu duga.

 

#KUIS

Apakah Kamu Sudah Siap Menikah? 

Melalui kuis ini, coba cek kamu memang sudah siap mengikat janji suci dengan doi atau sebenarnya masih butuh waktu untuk sendiri. Coba bayangkan seandainya kamu sedang menjalin sebuah hubungan. Bagaimana reaksi atau sikapmu bila mengalami hal-hal seperti di bawah ini bersama doi? Jawaban yang kamu berikan akan menggambarkan kamu sudah siap untuk menikah atau belum.



Cari tahu hal-hal yang perlu kamu kuasai dalam kehidupan rumah tangga, kemudian mulai berlatih melakukannya sambil menunggu jodohmu tiba. Persiapan yang kamu lakukan akan membantumu pada saat menjalani kehidupan pernikahan nantinya. Sehingga, segala rintangan yang datang akan terasa lebih mudah dihadapi. Jika kamu memang benar-benar kepengin untuk menikah, maka jangan hanya baper. Buktikan pula dengan sikap yang menunjukkan kesiapanmu untuk menempuh hidup baru.

Jangan hanya terburu-buru ingin menikah hanya karena desakan usia, nyinyiran orang, bahkan sekedar iri dengan teman-teman dan orang sekitarmu yang lebih dahulu naik ke pelaminan. Sebab, pernikahan bukanlah hal sepele dan seremeh cinta-cintaan belaka.

Mulai sekarang, mari luruskan niat. Kalau sampai detik ini Tuhan belum berkenan mempertemukan kita dengan jodoh yang Dia pilihkan, maka artinya menurut-Nya kita memang belum mampu. Meskipun sudah sangat ingin, kalau menurut Tuhan kita belum mampu, ya… mau gimana lagi? Perbaiki diri sendiri dulu, yuk! Agar Tuhan segera berkenan untuk mempertemukan kita dengan someone special yang telah dipersiapkan oleh-Nya. Tunggu saja!

 

Referensi :

Wahyuni, Tristanti Sri. 2020. Loading Jodoh : Panduan Menjadi Jomblo Bermartabat Sampai Jodoh Mendekat. Yogyakarta : C-Klik Media.

 

 

Komentar

  1. Semangat nulisnya ya:) aku sudah titipkan doa ke tuhan, insyaallah dikabulkan olehnya❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, semoga bermanfaat .. insyaallah senantiasa dimudahkan.

      Hapus
  2. Akhirnya yang ditunggu tunggu rilis juga. Greetings from your biggest fan ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia ya., semoga bermanfaat..

      Hapus

Posting Komentar