Salah satu
pembaca anonim sempat me-request tema
Insecure kepada Allah.. Saya rasa
topik kali ini masih masuk request-an
beliau.. semoga beliau bisa membacanya dan termotivasi untuk menjadi pribadi
yang lebih baik lagi.
Tulisan ini merupakan rangkuman dari buku yang berjudul “Jangan Sampai Diblokir Allah” yang ditulis oleh @nashihatku.
Bagaimana
rasanya jika salah satu teman kita memutuskan untuk memblokir kita dari status
pertemanan? Jika dia adalah teman yang jarang kita temui mungkin kita akan
baik-baik saja. Lain halnya jika dia adalah teman karib yang setiap hari
bertemu. Coba bayangkan, jika kasus ini terjadi kepada dirimu, di mana
Allah-lah yang memblokir kamu. Apa yang akan terjadi selanjutnya??? Begitu
syulit dibayangkan.
Hidayah adalah milik Allah, dan akan diberikan kepada hamba tertentu yang ia kehendaki. Jika hidayah itu tak muncul pada dirimu, mungkinkah Allah telah memblokirmu?? Maka berdoalah, semoga kamu bukan di antaranya. Segera buka buku ini, agar kamu tidak sampai diblokir Allah.
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash:56).
Saat hidup
baik-baik saja, kadang kita merasa dicintai dan mencintai Allah. Padahal,
hakikat meraih cinta ilahi adalah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Ibarat kamu sedang jatuh cinta, pasti kamu akan membuktikan
perasaanmu dengan segenap jiwa raga agar cintamu terbukti nyata dan masuk akal.
Begitu pula dengan kamu membuktikan perbuatanmu seperti itu untuk mengabdi
kepada-Nya. Jika tidak demikian, mana mungkin Allah akan percaya terhadap
cintamu.
Jangan sampai hidupmu diblokir Allah
Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dia yang
menciptakan semesta raya ini. Bila hati kita tertutup terhadap kekuasaan Allah,
itu pertanda kita sedang dikuasai nafsu dan penyakit hati seperti sombong,
syirik, iri, dengki, riya’, dan berbagai sifat lainnya. Kalaulah sifat-sifat
tadi ada dalam diri kita maka kekuasaan Allah yang sudah sangat jelas pun
akhirnya “Tak Terlihat” di mata kita.
Jangan merasa hidup kita baik-baik saja, meski tidak ada ketaatan kepada-Nya. Boleh jadi, dengan kamu malas beribadah, Allah jadi memblokir hidupmu. Dan yang lebih parah dan mengerikan lagi adalah firman Allah SWT sebagai berikut “Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaaan hina dina” (QS. Ghafir:60). Sekali lagi, alam semesta raya ini hanyalah “pantulah” cahaya-Nya. Bukan wujud tersendiri tanpa-Nya. Inilah keyakinan yang harus kita pegang dalam menjalin hubungan dengan-Nya, tentu agar kita tidak diblokir oleh-Nya.
Semoga kita
senantiasa mendapatkan cinta dari Allah, karena itulah yang seharusnya dicari
oleh setiap hamba-Nya, dalam setiap detak jantung dan napasnya. Ibn Al-Qayyim
mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan semua itu adalah dengan mempersiapkan
jiwa dan membuka mata hati kita.
“Jangan mengira bahwa jiwamu itu yang membawamu untuk
melakukan perbuatan baik. Akan tetapi, engkau itu seorang hamba yang sedang
dicintai Allah. Oleh karena itu, janganlah engkau melalaikan cinta ini sehingga
Allah (memblokir) melupakanmu”
Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah
Hindari
perbuatan maksiat karena perbuatan itu bisa menutup pintu rezekimu. Rezeki
bukan hanya tentang materi yang kamu dapatkan dan nikmati. Namun, tersedianya
waktu untuk beribadah kepada-Nya pun merupakan rezeki.
Saat kamu
diblokir Allah, hatimu lupa pada akhirat. Saat kamu lalai dalam ketaatan kepada
Allah, maka kamu sedang merusak hubungan dengan Penciptamu. Ketika kamu sedang
berada di rumah, kantor, kampus, sekolah bahkan di perjalanan, libatkan Allah
dalam setiap aktivitasmu. Niatkan segalanya untuk beribadah kepada-Nya.
Ketika kamu
mendapatkan ujian, ditimpa berbagai kemalangan, dan diterpa berbagai kesulitan,
ingatlah semua itu agar kamu bangun dari kelalaian, lalu kembali kepada Allah
dan menyesalinya. Orang yang sudah diblokir oleh Allah, maka hatinya telah
dimatikan oleh kelalaian. Hingga nasihat dan bencana pun tidak lagi bermanfaat
baginya. “Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan
dari mengingat kami, serta menuruti keinginannya dan keadaanya melewati batas.”
(QS. Al-Kahfi:28) “Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang
mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan.”
(QS. Al-A’raf:186).
“Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang
Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran beragama), kecuali kepada
yang Dia cintai. Maka barang siapa diberikan (kesadaran beragama) oleh Allah,
berarti ia dicintai oleh-Nya.”
HR. Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi
Saat
diblokir Allah, hatimu keras bagai batu
“Kemudian
setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih
keras. Padahal dari batu-batu itu pasti sungai-sungai yang (airnya) memancar
daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah
tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah:74).
Ciri orang yang berhati keras adalah dia yang tidak lagi merespon larangan dan peringatan dari Allah. Oleh sebab itu, tatkala setan melontarkan bisikan-bisikannya dengan serta-merta hal itu dijadikan sebagai argumen untuk mempertahankan kebatilan mereka, lalu mereka pun menggunakannya sebagai senjata untuk mendebat dan membangkang Allah dan Rasul-Nya. Bila hati sudah mengeras, kamu tidak bisa lagi memetik pelajaran dari nasihat-nasihat hikmah yang disampaikan orang lain. Kemudian, tidak tertarik untuk berubah meskipun diberi motivasi dan dorongan, serta tidak merasa takut meskipun ditakut-takuti. Inilah salah satu bentuk hukuman terberat yang menimpa kita bila jauh dari Allah.
“Engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga.” (QS. Yasin:10).
Semoga Allah tidak mengunci hati kita! Inilah kebiasaan buruk yang menyebabkan hati kita diblokir oleh Allah, dan hidayah-Nya pun tidak sampai ke dalam diri kita:
- Berani meninggalkan shalat fardu.
- Tenang tanpa merasa berdosa padahal sedang melakukan dosa besar (QS. Al-A’raf:3).
- Tidak mau membaca Al-Qur’an.
- Terus-menerus berbuat maksiat.
- Sibuknya hanya bergunjing dan buruk sangka, serta merasa dirinya selalu lebih suci.
- Sangat benci dengan nasihat baik dan ulama.
- Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan dan akhirat.
- Menggilai dunia tanpa peduli halal haram yang penting kaya.
- Tidak mau tahu dan masa bodoh terhadap keadaan orang lain bahkan pada keluarganya, sekalipun keluarganya menderita
Dalam rangka membersihkan hati yang membatu, tentu kita memerlukan waktu-waktu tertentu untuk menyendiri dalam memanjat doa, berzikir, shalat, merenung, introspeksi diri, dan memperbaiki hati dari lumpur maksiat yang menggunung. Hendaknya kita juga lebih mengutamakan Allah daripada menuruti hawa nafsu.
“Jika kamu sedang sendiri, jagalah kalbumu. Jika kamu berada di tengah-tengah orang banyak, jagalah lisanmu, jika kamu berada di hadapan meja makan, jagalah perutmu, dan jika kamu berada di jalanan, jagalah matamu, karena itulah kunci keselamatan.”
Berikut 8 cara yang bisa dilakukan dengan istiqamah agar Allah tidak memblokir hati kita:
- Memahami dan mengamalkan inti sari dua kalimat syahadat. Apabila kita serius hidup sesuai dengan ajaran Allah SWT, ketika kita sudah bersaksi bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah, lalu Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka segala perintah dan ajaran yang dibawa oleh utusan-Nya, Muhammad SAW, akan senantiasa kita ikuti.
- Memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Katakanlah: “Ruhul qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An-Nahl:102).
- Memulai dengan amal-amal sederhana. Untuk menjadi pribadi yang istiqamah dalam beramal saleh, kita perlu membiasakan diri melakukan amal-amal sederhana seperti bersedekah (walau sedikit), membantu kawan, shalat sunnah, dll.
- Paksa diri memberikan manfaat bagi sesama. Amal saleh bukan hanya amal yang berkaitan dengan diri sendiri melainkan amal saleh juga harus bermanfaat bagi orang di sekitar kita. Selalu berusaha membuka kebaikan diri dengan memberi manfaat kepada orang lain.
- Tingkatkan keyakinan adanya balasan di akhirat. Selain memberi balasan di dunia, Allah juga menyimpan balasan yang lebih baik di akhirat untuk kita tetap istiqamah beramal saleh.
- Memiliki sahabat dalam kebaikan (QS. At-Taubah:119)
- Membaca kisah orang-orang saleh (QS. Hud:120)
- Perbanyak doa dan memohon pertolongan Allah. Allah SWT. memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdoa kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian maupun kerasnya hati (QS. Ali Imran:147).
Jika surga
adalah tempat yang kita dambakan, maka kita membersihkan hati ini agar kita
diarahkan kepada petunjuk-Nya. Dari mana kita mendapat petunjuk tersebut? Tentunya
dari Al-Qur’an dan Sunnah. Untuk menuju surga, Allah telah menunjukkan
jalan-jalan yang harus dilalui. Ketika hati kita terkunci, maka telah menempuh
jalan yang salah, yang berujung pada kesesatan. Jadi, hal pertama dan paling
utama kita lakukan sekarang adalah berusaha semaksimal mungkin untuk
mendapatkan maghfirah dan bertobat atas kerasnya hati kita.
Referensi :
Nashihatku. 2018. Jangan Sampai Diblokir Allah. Bandung Timur: Salam.





Alhamdulillah akhirnya yang ditunggu tunggu rilis juga ❤️
BalasHapusmasyaallah,, terima kasih sudah menjadi pembaca setia. semoga kamu bisa memetik hikmahnya dan mengimplementasikan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
BalasHapus